Suriah

Rakyat Terus Berunjuk Rasa

Kompas.com - 23/04/2011, 04:48 WIB

Kairo, Kompas - Rakyat Suriah, kemarin, seusai shalat Jumat kembali menggelar aksi unjuk rasa menentang rezim Presiden Bashar al-Assad di berbagai kota. Puluhan ribu warga turun ke jalan di kota Daraa (Suriah selatan), Salmiyah, Homs, Douma, dan Qamishli (Suriah tengah).

Rakyat Suriah dalam jumlah lebih kecil juga berunjuk rasa di ibu kota Damaskus. Rakyat Suriah menyebut hari Jumat kemarin sebagai hari ”Jumat kebesaran”.

Unjuk rasa tersebut merupakan tantangan serius bagi Presiden Assad setelah sehari saja (hari Kamis lalu) mengeluarkan dekret pencabutan undang-undang darurat, pembubaran pengadilan keamanan negara, dan memberikan hak berunjuk rasa secara damai.

Assad juga menunjuk Ghassan Mustafa Abdel El Al sebagai gubernur baru untuk Provinsi Homs. Kota Homs dan sekitarnya selama sepekan ini dilanda aksi unjuk rasa antirezim Assad secara besar-besaran.

Aktivis politik Suriah, Ayman Aswad, dari kota Daraa kepada stasiun televisi Al Jazeera menegaskan, pencabutan undang-undang darurat tidak cukup.

”Otoritas Suriah harus segera membebaskan semua tahanan politik serta menyelenggarakan pemilu yang bebas dan transparan dengan undang-undang pemilu yang adil,” kata Ayman Aswad.

Menurut dia, aksi unjuk rasa akan terus berlanjut sebelum otoritas Suriah membebaskan tahanan politik dan ada agenda waktu tentang penyelenggaraan pemilu demokratis.

Inginkan rezim tumbang

Aktivis internet Suriah yang dikenal sebagai penggerak unjuk rasa Suriah melalui jejaring sosial di internet, Miladza Omran, mengatakan, pencabutan undang-undang darurat tak mengubah keadaan karena tuntutan rakyat Suriah adalah tumbangnya rezim Assad.

Miladza Omran adalah nama aktivis oposisi Suriah yang dalam jejaring sosial dikenal dengan nama Rami Nakhla. Ia meninggalkan Suriah menuju Beirut beberapa waktu lalu setelah diburu aparat keamanan. Omran diburu lantaran aktivitas oposisinya terhadap rezim Assad melalui jejaring sosial di internet.

Menurut Omran, tujuan gerakan unjuk rasa di Suriah sejak awal adalah menumbangkan rezim Assad meskipun ketika meletus unjuk rasa pertama pada bulan lalu hanya menuntut kebebasan.

Ia mengungkapkan, pada awalnya aksi unjuk rasa di Suriah memang hanya menuntut kebebasan lantaran saat itu masih takut langsung menuntut tumbangnya rezim, karena jumlah pengunjuk rasa sedikit.

Namun, sekarang, lanjut Omran, seiring dengan semakin banyaknya pengunjuk rasa dan semakin luas di berbagai kota, pengunjuk rasa kian berani menuntut tumbangnya rezim Assad.

Omran (28) adalah salah seorang penggerak aksi unjuk rasa melalui jejaring sosial di internet dengan memiliki lebih dari 2.800 teman di Facebook dan lebih dari 3.000 pengunjung di Twitter.

Omran yang belajar ilmu politik di Universitas Damaskus mengungkapkan, intelijen Suriah mengetahui identitas asli dirinya sejak awal April ini setelah ia melakukan wawancara dengan salah satu stasiun televisi Arab. Setelah itu, lanjut Omran, intelijen Suriah melalui akun Facebook mengancam akan menangkap saudara perempuannya jika ia tidak segera menarik diri dari gerakan revolusi Suriah.

Di Yaman, rakyat negeri itu seusai shalat Jumat juga menggelar aksi unjuk rasa di berbagai kota, menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh mundur. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau