Teror bom

Mabes Polri: P dan IF Bertemu Dua Kali

Kompas.com - 23/04/2011, 12:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mabes Polri membeberkan bahwa pertemuan antara P dan IF sudah terjadi dua kali. P adalah dalang rencana pengeboman Gereja Christ Cathedral, sedangkan IF adalah juru kamera Global TV. Pertemuan tersebut bahkan terjadi sebelum peristiwa bom buku pada 15 Maret 2011 lalu. IF rencananya akan ditawarkan untuk meliput aksi pengeboman yang akan dilakukan oleh P dan jaringannya.

"Sebelum bom buku, keduanya bertemu. Pertemuannya dari pemeriksaan sementara baru terjadi dua kali," ujar Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Sabtu (23/4/2011).

Namun, saat ini Polri masih mencari keterangan lebih lanjut apakah IF juga terlibat dan berinteraksi dengan 18 tersangka lainnya, selain P. Sejauh ini dalam pemeriksaan diketahui bahwa IF hanya berteman dengan P.

"Kami belum tahu, apakah dia (IF) diajak dengan dibayar oleh P atau memang melakukannya untuk jihad. Ini kan baru idenya mereka untuk melakukan pengeboman. Masih kami dalami lagi," ujar Boy.

Keduanya ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda. P ditangkap di Aceh setelah Polri mendapat pengakuan dari tersangka lainnya, yang sudah terlebih dahulu ditangkap oleh Polri. Sementara nama IF turut disebut setelah P membeberkan keterlibatannya kepada penyidik kepolisian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau