Neli Triana
”Waduh, dari kapan ya? Dari saya kecil sepertinya selalu ada tawuran di sini.” Demikian kata Farid (28), warga Jalan Tanah Tinggi Timur, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (21/4).
Bicara tentang Johar Baru memang tidak jauh dari masalah tawuran, kekumuhan, hingga kejahatan, mulai dari pencuri, pencopet, sampai narkoba. Padahal, kedekatannya dengan kawasan Senen pernah membuat wilayah ini termasyhur sebagai ikon Ibu Kota.
Disarikan dari berbagai sumber, kawasan Senen dan sekitarnya mulai tumbuh saat didirikannya Pasar Senen oleh Justinus Vinck pada tahun 1733.
Senen terus berkembang menjadi pusat perdagangan hingga pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun 1970-an, kawasan ini menjadi pusat perdagangan sekaligus tempat menyediakan segala kebutuhan sandang agar warga Jakarta tampil modis dengan tren terkini. Jika di Senen mudah ditemukan pedagang pakaian, di kawasan Johar Baru mudah ditemukan usaha konveksi.
Disusul hadirnya Gelanggang Remaja Senen atau akrab disebut Planet Senen, kawasan ini pun semakin digemari remaja dan para seniman. Sebut saja tokoh kenamaan Benyamin Sueb, Bing Slamet, dan Djamaludin Malik, yang semuanya ”dibesarkan” di gelanggang ini.
Permukiman warga pun turut berkembang seiring berkembangnya kawasan Senen. Johar Baru yang memiliki empat kelurahan, yaitu Johar Baru, Kampung Rawa, Galur, dan Tanah Tinggi, makin diminati sebagai tempat menetap bagi warga yang ingin berada dekat dengan pusat kota, dekat dengan tempat bekerja, serta dekat dengan tempat beraktivitas.
Pertumbuhan kawasan Senen ditandai dengan munculnya pusat perdagangan Senen atau proyek Senen yang dibangun pada masa pemerintahan Ali Sadikin. Ditambah Pasar Inpres dan Terminal Senen, melengkapi keberadaan Stasiun Senen yang lebih dulu ada. Pada tahun 1990-an dibangun pula superblok modern Atrium Senen.
Seiring pesatnya perkembangan kawasan Senen, pedagang informal alias pedagang kaki lima pun menjamur. Masih ingat dengan bursa buku bekas Kwitang atau kawasan Poncol Senen yang menjadi pusat penjualan barang loak atau warung makan khas Minang di Kramat.
Perkembangan di Senen, Johar Baru, dan sekitarnya membuat kawasan ini menjadi semakin padat penduduk. Johar Baru merupakan kecamatan terpadat di Jakarta. Tahun 2010, jumlah penduduknya mencapai 116.359 jiwa dengan kepadatan penduduk 48.952 jiwa per kilometer persegi. Kawasan padat ini menjadi ikon kebijakan pembangunan yang dinilai timpang sehingga membuat si miskin makin miskin.
Gesekan antarwarga, dendam lama, atau sekadar ulah sebagian kecil berandalan di kawasan ini bisa memicu perkelahian massal. Pada Senin (18/4) di Tanah Tinggi terjadi tiga kali tawuran di tempat berbeda yang melibatkan kelompok massa berbeda. Dalam sebulan terakhir ini, sedikitnya telah terjadi 17 tawuran di Johar Baru.
Data Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat menyebutkan, kemacetan, rumah, atau tempat usaha yang rusak, penjarahan, dan warga yang terluka atau bahkan mati merupakan imbas dari tawuran yang terus berulang.
Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Hamidin mengatakan, dibutuhkan uluran tangan banyak pihak untuk membenahi permukiman padat sarat masalah, seperti di Johar Baru. ”Sudah ada pertemuan dan posko bersama dengan LSM, pihak pemerintah, dan tokoh masyarakat setempat. Namun, yang dirangkul itu baru tataran orang-orang tuanya, sementara para pemudanya, yang tidak lain adalah pelaku tawuran, belum tersentuh,” katanya.
Hamidin juga mengakui bahwa saat ini ia dan pihak kecamatan, wali kota, serta Gubernur tengah mencari formulasi yang tepat untuk mengakhiri penyakit tawuran di Johar Baru. Dari sisi penegakan hukum, Hamidin mengaku siap memobilisasi anak buahnya untuk menyisir rutin kawasan ini.
Akan tetapi, pengamat perkotaan menilai, mengakhiri tawuran harus dengan pembenahan menyeluruh kawasan ini, yang juga berarti mengakhiri ketidakpedulian pemerintah terhadap dampak pembangunan bagi sebagian warganya.
Arsitektur lanskap Nirwono Joga, misalnya, pernah mengatakan, permukiman kumuh identik dengan kemiskinan dan penghuninya rata-rata pekerja informal. Permukiman padat wajib ditata ulang, tetapi bukan digusur. Pembangunan rumah susun di lokasi yang sama atau dekat dengan tempat tinggal awal dianggap lebih tepat.
”Sekarang ada tren kembali bermukim di pusat kota dengan adanya apartemen-apartemen mewah. Tetapi mana rusun untuk warga ekonomi menengah ke bawah? Apa ada kebijakan kepemilikan rumah mudah bagi pekerja informal? Padahal, mereka ini penggerak utama ekonomi kita,” kata Nirwono.
Dosen Kajian Perkotaan Pascasarjana Universitas Indonesia, Hendricus Andy Simarmata, mengingatkan pentingnya pemahaman lebih dulu pola kehidupan warga penghuni permukiman padat.
”Penghuni permukiman padat biasanya telah terbiasa hidup berdempetan dan berbagi. Mereka juga amat tergantung dengan tempat tinggalnya karena mata pencarian mereka rata-rata tak jauh dari rumahnya. Kedekatan tempat tinggal dan tempat bekerja membantu menghemat ongkos mobilitas,” kata Hendricus.
Hendricus pun mengusulkan pembangunan bertahap rumah-rumah susun mini, bertingkat dua atau tiga. Setiap rusun menggantikan sekian jumlah rumah petak. Kelengkapan fasilitas umum, berupa jalan yang lebar, sekolah yang benar-benar gratis, halaman di setiap rusun, dan posko-posko keamanan akan membuat warga nyaman serta mudah mengantisipasi setiap gejala kejahatan, termasuk tawuran.
Camat Johar Baru Suyanto Budi Roso juga menegaskan, pihaknya sangat terbuka dengan berbagai opsi untuk menyelamatkan Johar Baru. Uluran tangan pemerintah provinsi, pihak kepolisian, dan para ahli seperti ahli perkotaan sangat disambutnya.
Namun, kapankah usulan itu direalisasikan? Sebab, di Johar Baru bara tawuran tak pernah padam layaknya bahaya laten yang mudah tersulut.