Malinau, Kompas
Pengamatan
Untuk naik ke pesawat, penumpang beserta barang bawaannya hanya ditimbang beratnya. Tidak ada pemeriksaan manual ataupun menggunakan pendeteksi logam.
Selain pengantar bisa mendekat hingga pintu pesawat, warga sekitar bebas beraktivitas di landasan pacu, seperti mengendarai motor atau berjalan kaki.
”Kami perlu petugas keamanan, seperti TNI atau polisi, plus kelengkapan standar seperti metal
Selama ini, pengamanan lingkungan bandara hanya mengandalkan saling percaya antara petugas dan calon penumpang atau pengantarnya.
Mengenai keterbatasan frekuensi penerbangan, Iban, Operator Radio Bandara Long Ampung menyatakan, hanya dua maskapai yang melayani penerbangan ke perbatasan ini. Itu pun hanya satu yang mempunyai jadwal reguler.
”Bandara Long Ampung dibuka tahun 1980-an, dan landasannya baru diaspal 1996. Sudah beberapa kali maskapai masuk, tapi tidak bertahan lama dan tidak bisa reguler,” katanya.
Menurut Iban, keterbatasan frekuensi penerbangan itu menyulitkan warga atau mereka yang bekerja di perbatasan. Meski demikian, adanya penerbangan reguler saat ini sudah lebih baik dibanding tahun lalu.
”Warga memanfaatkan pesawat untuk banyak hal, terutama untuk berobat maupun berbelanja barang ke Samarinda (ibu kota Provinsi Kalimantan Timur),” katanya.
Warga juga sangat terbantu adanya subsidi dari pemerintah, sehingga harga tiket lebih terjangkau masyarakat.
Oleh karena itu, warga sangat berharap subsidi itu diteruskan agar mobilitas warga pedalaman tidak terganggu. Mereka juga berharap frekuensi penerbangan ditambah, sehingga mobilitas tidak terhambat oleh ketersediaan tempat duduk yang terbatas.
”Kalau pas semua tiket habis, ya apes.” kata Agus, polisi hutan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, yang bertugas dinas di Long Ampung. Untuk diketahui, penerbangan ke pedalaman menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas 12 tempat duduk.
Untuk meningkatkan kapasitas, berbagai upaya telah dilakukan pihak pengelola bandara, seperti memperpanjang landasan pacu.