Infrastruktur

Bandara di Perbatasan Rawan Penyelundupan

Kompas.com - 26/04/2011, 03:46 WIB

Malinau, Kompas - Sejumlah bandar udara di perbatasan Kalimantan Timur-Malaysia masih sangat kekurangan fasilitas. Ketiadaan petugas keamanan dikhawatirkan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, seperti penyelundupan antarnegara, termasuk barang berbahaya.

Pengamatan Kompas, Senin (25/4), tidak ada petugas keamanan yang tampak di Bandara Kol RA Bessing di Malinau, serta di Lapangan Terbang Long Ampung di Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Kabupaten Malinau berbatasan langsung dengan Sabah dan Serawak, Malaysia.

Untuk naik ke pesawat, penumpang beserta barang bawaannya hanya ditimbang beratnya. Tidak ada pemeriksaan manual ataupun menggunakan pendeteksi logam.

Selain pengantar bisa mendekat hingga pintu pesawat, warga sekitar bebas beraktivitas di landasan pacu, seperti mengendarai motor atau berjalan kaki.

”Kami perlu petugas keamanan, seperti TNI atau polisi, plus kelengkapan standar seperti metal detector. Setidaknya itu cukup menjamin keamanan, juga mencegah jika ada barang selundupan dari Malaysia. Bukannya berprasangka jelek, sebaiknya mesti ada langkah antisipasi,” kata Hadri Sarjiyono, Operator Teknisi Kontrol Bandara RA Bessing Malinau.

Selama ini, pengamanan lingkungan bandara hanya mengandalkan saling percaya antara petugas dan calon penumpang atau pengantarnya.

Frekuensi terbatas

Mengenai keterbatasan frekuensi penerbangan, Iban, Operator Radio Bandara Long Ampung menyatakan, hanya dua maskapai yang melayani penerbangan ke perbatasan ini. Itu pun hanya satu yang mempunyai jadwal reguler.

”Bandara Long Ampung dibuka tahun 1980-an, dan landasannya baru diaspal 1996. Sudah beberapa kali maskapai masuk, tapi tidak bertahan lama dan tidak bisa reguler,” katanya.

Menurut Iban, keterbatasan frekuensi penerbangan itu menyulitkan warga atau mereka yang bekerja di perbatasan. Meski demikian, adanya penerbangan reguler saat ini sudah lebih baik dibanding tahun lalu.

”Warga memanfaatkan pesawat untuk banyak hal, terutama untuk berobat maupun berbelanja barang ke Samarinda (ibu kota Provinsi Kalimantan Timur),” katanya.

Warga juga sangat terbantu adanya subsidi dari pemerintah, sehingga harga tiket lebih terjangkau masyarakat.

Oleh karena itu, warga sangat berharap subsidi itu diteruskan agar mobilitas warga pedalaman tidak terganggu. Mereka juga berharap frekuensi penerbangan ditambah, sehingga mobilitas tidak terhambat oleh ketersediaan tempat duduk yang terbatas.

”Kalau pas semua tiket habis, ya apes.” kata Agus, polisi hutan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, yang bertugas dinas di Long Ampung. Untuk diketahui, penerbangan ke pedalaman menggunakan pesawat kecil dengan kapasitas 12 tempat duduk.

Untuk meningkatkan kapasitas, berbagai upaya telah dilakukan pihak pengelola bandara, seperti memperpanjang landasan pacu. (pra)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau