Pencucian otak

Korban Cuci Otak Pulang ke Rumah

Kompas.com - 26/04/2011, 13:31 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Salah satu korban "cuci otak", Mahathir Rizki, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, yang beberapa pekan hilang, Selasa dini hari sudah pulang ke rumahnya, di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Alhamdulillah, Mahathir Rizki sudah pulang ke rumah orangtuanya di Bima. Dia pulang Selasa (26/4/2011) dini hari dalam kondisi selamat dan sehat," aku Yudi Ardiansyah, paman dari Mahathir, kepada Kompas.com melalui pesan pendeknya, Selasa (26/4/2011), sekitar pukul 11.00 WIB.

Dikonfirmasi lebih lanjut terkait kepulangan Mahathir, Yudi meminta untuk menghubungi keluarganya ada di Bima. "Silakan hubungi langsung ke rumah Rizki di Bima," pinta Yudi.

Saat dihubungi via telepon, tante Rizki, Dewi, yang juga istri dari Yudi, membenarkan kepulangan Rizki ke rumahnya di Bima. "Iya. Rizki sudah pulang ke rumah. Dia datang ke rumah Selasa dini hari. Pokoknya sekitar subuh tiba di rumah. Sekarang menyendiri di dalam kamar. Dia tak mau diajak bicara. Sendirian main Facebook," aku Dewi.

Menurut Dewi, Rizki datang dalam kondisi sehat. "Hanya saat ini tak bisa ditemui siapa pun. Mau ditemui ibu-bapaknya saja dia menolak. Katanya pikirannya masih belum tenang," ujarnya.

Saat baru sampai di rumah, Rizki mengaku, selama ini tinggal di Semarang, Jawa Tengah. "Di mana tepatnya dia belum mengaku banyak. Mau ditemui wartawan di sini juga tidak mau," katanya.

Kepulangan Mahathir Rizki itu membuat kedua orangtuanya, yakni Abdul Mutallib dan Rostina, sangat bersyukur. "Kedua orangtuanya dan semua keluarga di sini sangat bahagia dia mau pulang. Kalau memang Rizki adalah korban cuci otak, mungkin keluarga akan mencari orang yang bisa mengobatinya," katanya.

Sementara itu, Kabag Ops Polresta Malang Kompol Abdul Kholiq membenarkan kepulangan Mahathir Rizki. "Mahathir Rizki sudah pulang ke rumahnya. Kami sudah mengoordinasikan kepulangan Mahathir Rizki ke Rektor UMM. Yang jelas dia hanya korban," katanya.

Hingga saat ini pihak Mapolresta Malang terus memburu pelaku cuci otak itu. "Polresta sudah menurunkan 15 personel untuk memburu pelaku, yakni Fikri dan Adam," ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Muhadjir Effendy hingga kini belum bisa dikonfiormasi. Dihubungi via telepon, nomor ponselnya sedang tidak aktif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau