Selidiki Pelepasan Saham West Madura

Kompas.com - 26/04/2011, 18:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dewan Perwakilan Rakyat didesak agar menyelidiki pelepasan saham Kodeco dan CNOOC, pengelola Blok West Madura, yang dilaksanakan menjelang masa berakhirnya kontrak pengelolaan lapangan migas itu pada 7 Mei nanti. Hal itu dikarenakan pelepasan saham tersebut diduga sarat kolusi yang bisa merugikan kepentingan nasional.

Demikian disampaikan koordinator nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Ridaya Laodengkowe, dalam siaran pers, Selasa (26/4/2011) di Jakarta.

Menurut Ridaya, pemerintah mencoreng kebijakan minyak nasional. Kali ini dalam pengelolaan Blok West Madura yang akan berakhir pada 6 Mei 2011. Alih-alih mempertegas garis kebijakan minyak nasional, pemerintah kepada Pertamina untuk menyetujui pelepasan saham Kodeco dan CNOOC.

"Hal ini merupakan tamparan serius dalam upaya membangun garis kebijakan dan tata kelola sektor migas nasional yang kredibel," katanya.

Sebagaimana diketahui, Blok West Madura pengelolaannya diatur dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) dengan komposisi saham terdiri dari Pertamina yang menguasai 50 persen, CNOOC (25 persen), Kodeco (25 persen) dengan hak operatorship.

Menjelang beberapa hari dari masa 30 tahun masa kontrak lapangan itu, Kodeco dan CNOOC melepaskan separuh sahamnya (12,5 persen), masing-masing kepada PT Sinergindo Citra Harapan dan Pure Link Investment Ltd.

Pelepasan 12,5 persen saham Kodeco dan CNOOC jelang masa berakhirnya kontrak adalah langkah korporasi yang patut dicurigai. Apalagi, menurut kami, PT Sinergindo Citra Harapan dan Pure Link Investment Ltd bukan perusahaan minyak yang memiliki rekam jejak dalam jagat minyak di Indonesia. "Setidaknya tidak dikenal oleh pelaku usaha hulu minyak nasional," katanya.

Kami mengecam langkah pelepasan saham itu. Kami memandang pelepasan merupakan siasat kedua perusahaan mem-fait-accomply.

Pemerintah dalam posisi memutuskan siapa pengelola lapangan tersebut setelah kontrak berakhir. "Kami memandang langkah kedua korporasi itu melepas saham sebagai upaya menghalangi perusahaan minyak milik negara (Pertamina) mengambil alih 100 saham pengembangan lapangan tersebut," ujarnya.

Padahal, Pertamina telah mengajukan rencana bisnis yang cukup menjanjikan pengembangan lapangan tersebut. "Kami menyayangkan tindakan BP Migas dan Kementerian ESDM yang tidak saja meremehkan proposal perusahaan minyak milik negara, tetapi juga telah dengan sengaja membiarkan dan bahkan memfasilitasi langkah korporasi yang jelas tidak sportif tersebut," katanya.

Mestinya, bila ingin menyertakan perusahaan lain bagi pengembangan lebih lanjut lapangan West Madura, pemerintah harus menunggu hingga masa kontrak berakhir.

Atau, pemerintah bisa memutuskan sekarang tentang pihak mana yang dipercaya mengembangkan lebih lanjut lapangan itu, berikut komposisi pemegang sahamnya, serta justifikasi mengapa perusahaan baru diajak, dan mengapa bukan Pertamina yang diberi hak operatorship.

"Itu pun sebenarnya pemerintah telah mengabaikan fakta bahwa Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional memiliki kemampuan dan rekam jejak yang baik untuk peningkatan produksi lapangan tua," ujarnya.

Namun, opsi ini dinilai lebih baik, lebih elegan, dan di atas segalanya lebih kredibel ketimbang menyetujui siasat licik kedua korporasi yang melepas pemilikan saham pada saat-saat akhir masa kontrak.

Terhadap langkah korporasi itu, dan terhadap langkah pemerintah yang memerintahkan kepada Pertamina untuk menyetujui hal itu, pihaknya menilai hal itu merupakan pelanggaran yang serius kepada kredibilitas dan garis kebijakan minyak nasional yang selama ini dibangun. "Karena itu, DPR harus segera menyelidiki kasus ini," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau