Konflik Memanas

Kompas.com - 27/04/2011, 03:15 WIB

PHANOM DONG RAK, SELASA - Setelah sepi dari aksi baku tembak seharian, pertempuran kembali pecah antara militer Kamboja dan Thailand, Selasa (26/4) pagi. Kali ini tembak- menembak terjadi di dekat candi Preah Vihear, lokasi serupa insiden pada awal Februari lalu yang menewaskan 11 orang.

Dalam pertempuran selama 30 menit itu, militer kedua negara ”bertukar” peluru artileri dan roket. Pihak Kamboja mengklaim salah satu dari dua jet tempur F-16 Thailand menembak ke wilayah mereka.

Akan tetapi, tuduhan itu dibantah Thailand. Pihak Thailand menyatakan, kedua jet tempur itu hanya berpatroli di wilayah udara Thailand dan tidak sekali pun melepaskan tembakan.

Memasuki hari kelima pertempuran, jumlah korban tewas dilaporkan sudah mencapai 13 orang dari kedua pihak.

Sementara itu, sekitar 50.000 warga sipil yang tinggal di wilayah perbatasan kedua negara terpaksa mengungsi.

Insiden kali ini tak pelak juga mulai menarik perhatian Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Senin, menyatakan ”kepedulian mendalam” atas kejadian itu.

Hillary juga dilaporkan telah menghubungi para pejabat kedua negara tanpa dirinci lebih jauh isi pembicaraannya.

Namun, tak lama kemudian Kementerian Pertahanan Kamboja melontarkan pernyataan pihaknya dan Kementerian Pertahanan Thailand akan segera menggelar pertemuan gencatan senjata dalam waktu dekat.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertahanan Thailand Jenderal Prawit Wongsuwon mengindikasikan kesiapannya berdialog.

”Kami punya kesempatan untuk bertemu dan berbicara. Tidak ada masalah. Saya yakin situasi akan lebih membaik dalam beberapa hari mendatang,” ujar Prawit saat mengunjungi wilayah perbatasan.

Sebelumnya Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun 2011 juga telah beberapa kali mencoba memfasilitasi pertemuan dialog dan perundingan kedua negara, yang juga anggota ASEAN. Indonesia juga memosisikan diri sebagai penengah dalam konflik tersebut.

Dalam pertemuan darurat para menteri luar negeri ASEAN, 22 Februari lalu, bahkan disepakati, Indonesia, yang juga berperan sebagai penengah, akan mengirim pasukan pemantau (observer) dari TNI untuk ditempatkan ”melekat” ke masing-masing militer yang ada di perbatasan.

Akan tetapi, pelaksanaan kesepakatan itu diketahui terganjal. Thailand menolak usul Indonesia terkait kerangka acuan penggelaran pasukan pemantau tersebut, sementara Kamboja menyatakan sepakat.

Senin lalu, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa bahkan batal berkunjung ke Kamboja dan Thailand untuk mendapat tanda tangan persetujuan atas kerangka acuan itu.

Persoalan diyakini semakin diperparah ketika sejumlah kalangan melihat konflik juga diwarnai kepentingan politik domestik masing-masing negara, terutama Thailand yang pada Juli mendatang akan menggelar pemilu.

Tantangan bagi Indonesia

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, mengingatkan, penyelesaian konflik antara Thailand dan Kamboja sesegera mungkin akan menjadi tantangan berat bagi ASEAN, terutama Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun ini.

ASEAN akan menggelar perhelatan besar, ASEAN Summit Ke-18, di Jakarta, 4-8 Mei 2011. Perhelatan besar itu dijadwalkan juga dihadiri sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan.

”Sebagai Ketua ASEAN tahun 2011, Indonesia punya tanggung jawab moral mendamaikan keduanya. ASEAN Summit (Ke-18) sebentar lagi digelar di Jakarta. Kalau sampai terjadi KTT berlangsung, tetapi konflik masih terjadi, pastinya memalukan,” ujar Ikrar.

Menanggapi reaksi AS, Ikrar melihat hal itu bisa diprediksi lantaran negara adidaya tersebut memang punya kepentingan di kawasan Asia Tenggara, apalagi Thailand merupakan sekutunya. Namun, dia tidak khawatir hal itu akan meningkat menjadi campur tangan AS.

Dalam siaran persnya, Kementerian Luar Negeri RI menegaskan kembali penyesalannya atas insiden yang terjadi lima hari ini. Pemerintah Indonesia, yang juga sebagai Ketua ASEAN, mengingatkan konflik bersenjata bertentangan dengan semangat dan visi kesatuan ASEAN.

Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Singapura menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Indonesia. Singapura berharap perdamaian bisa segera tercapai. (REUTERS/AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau