Jakarta, Kompas -
”Operator seluler yang mampu melayani 100 juta pelanggan menjadi pengguna aktif. Apa yang disediakan operator bukan lagi layanan dasar, tetapi aneka layanan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan sehingga bersifat lebih personal,” kata Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.
Operator seluler dari negara lain yang terlebih dulu menggaet 100 juta pelanggan adalah China Mobile dengan 600 juta pelanggan, China Unicom (174 juta), Bharti Airtel (162 juta), Reliance Communications (135 juta), Vodafone Essar (134 juta), dan Verizon Wireless (104 juta).
Sarwoto menyatakan, 100 juta pelanggan merupakan modal sekaligus tantangan di tengah mulai jenuhnya industri pasar seluler. Telkomsel memiliki fondasi kuat dan paling siap untuk melangkah beyond telecommunication dengan layanan yang berpusat pada data.
Dalam upaya transformasi tersebut, di tahun 2011 Telkomsel menginvestasikan belanja modal senilai 1,1 miliar dollar AS (sekitar Rp 10,9 triliun) yang 60 persennya dialokasikan untuk peningkatan layanan broadband. Proses transformasi menuju era beyond telecommunication juga meniscayakan peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan, skema kolaborasi dan kemitraan dengan para mitra kerja, sistem pendukung yang andal (sistem penagihan, sistem pencatatan data pelanggan, dan lain-lain), serta pengembangan layanan mobile broadband dan bisnis baru (mobile wallet, musik digital, konten, dan mobile advertising).
Saat ini, sebanyak 100 juta pelanggan Telkomsel dilayani lebih dari 38.000 base transceiver station (BTS), termasuk lebih dari 8.300 Node B (BTS 3G).
Untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggan, Telkomsel menggelar lebih dari 1 juta titik pelayanan pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti Grapari, Gerai HALO, Kios HALO, gerai diler, ritel nasional, dan m-Kios.