Monas Masih Rawan Kejahatan

Kompas.com - 28/04/2011, 03:57 WIB

Jakarta, Kompas - Kawasan Monas belum sepenuhnya aman dari kejahatan. Pada Rabu (27/4) sekitar pukul 22.00, sepasang kekasih menjadi korban perampasan di Jalan Medan Merdeka Barat. Dua polisi yang berpatroli juga menjadi sasaran pelaku yang berjumlah empat orang.

Saat kejadian, dua korban bernama Falian Pramudita (17) dan Yulianto Yudatama (20) tengah duduk di trotoar kawasan Jalan Merdeka Barat, tepatnya depan gedung RRI. Pada malam hari, kawasan ini kerap dijadikan tempat pasangan muda-mudi untuk menghabiskan waktu.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor matik menghampiri pasangan ini dan parkir tidak jauh dari mereka. Pengendaranya turun dari sepeda motor dan menghampiri pasangan ini.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat, pelaku meminta korban menyerahkan telepon seluler dan dompet mereka. Korban sempat menolak dan mempertahankan harta miliknya.

Merasa permintaannya ditolak, dua orang ini memberi kode bantuan. Dua orang berboncengan mengendarai sepeda motor RX King pun tiba. Keduanya mengaku sebagai oknum tentara dan memaksa korban menyerahkan barang mereka.

Saat kekerasan berlangsung, dua sahabat korban yang tengah duduk tidak jauh dari korban berlari dan mencari polisi yang tengah berpatroli di kawasan Monas. Mereka melaporkan kejadian ini ke polisi.

Polisi segera menghampiri lokasi kejadian. Naas, dua polisi, yaitu Brigadir Kamdani dan Brigadir Aris, malah menjadi sasaran kekerasan pelaku. Pelipis Kamdani dipukul, sementara tangan Aris terluka akibat terkena lemparan konblok. Dua ponsel dan dompet korban juga raib dibawa pelaku yang langsung kabur setelah mendapatkan barang milik korban.

Modus seperti itu bukan hanya sekali terjadi. Dalam dua bulan terakhir, sudah empat kali laporan kekerasan semacam itu masuk ke Polsek Metro Gambir.

Kantongi identitas pelaku

Kepala Unit Reskrim Polsek Gambir Komisaris Taufik mengatakan, pihaknya sudah mengantongi identitas keempat pelaku. Mereka berinisial AR, A, T, dan K. Dua di antara pelaku diduga oknum tentara.

”Dari setiap laporan yang kami terima, korban mengaku didatangi preman setempat. Mereka diminta menyerahkan barang, seperti ponsel dan dompet. Bila langkah ini tidak berhasil, barulah datang dua oknum yang diduga bagian kelompok ini,” kata Taufik.

Barang yang dirampas pelaku biasanya berupa ponsel dan dompet. Setelah beraksi, pelaku kerap menghilang dan beberapa hari kemudian berbuat hal serupa. Kekerasan ini terjadi setelah pukul 21.00 dan selalu di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat.

Ketidakamanan ini masih terjadi kendati kawasan Monas sudah dipasangi delapan kamera pengawas (CCTV) sejak akhir 2010. Kejadian seperti ada orang meminta uang pernah terekam CCTV pada awal tahun ini. Namun, kejadian ini belum bisa ditindaklanjuti karena belum ada kerja sama antarinstansi. Pemasangan CCTV di Monas memakan anggaran Rp 1,7 miliar.

(ART)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau