Korban nuklir

Setelah Matahari Terbit dari Barat...

Kompas.com - 29/04/2011, 04:42 WIB

Jauh sebelum krisis nuklir di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang sudah beberapa kali ditimpa bencana nuklir. Setelah dua kali dijatuhi bom atom pada Agustus 1945, ada satu lagi insiden terkait nuklir yang tak banyak diketahui orang.

Insiden ini menimpa kapal Daigo Fukuryu Maru (Naga Beruntung No 5), kapal kayu yang pada zamannya menjadi andalan nelayan Jepang mencari ikan tuna hingga ke tengah Samudra Pasifik.

Pada 1 Maret 1954, kapal itu dengan 23 awaknya berada sekitar 160 kilometer sebelah timur Atol Bikini, Kepulauan Marshall. Para kru tidak tahu bahwa di atol tersebut militer Amerika Serikat sedang menyiapkan uji coba bom hidrogen, jenis bom termonuklir terbaru yang berkekuatan 1.000 kali bom atom di Hiroshima.

Prof Dr Shoichiro Kawasaki, Presiden Daigo Fukuryu Maru Foundation Inc, mengisahkan, menjelang fajar hari itu, para awak kapal dikejutkan dengan kilatan cahaya menyilaukan di arah barat. ”Mereka mengisahkan, seolah-olah matahari terbit dari barat. Bola matahari yang sangat besar muncul dari cakrawala dan terangkat ke langit,” tutur Kawasaki.

Pemandangan ”matahari terbit” itu disusul suara ledakan yang menggelegar delapan menit kemudian.

Abu kematian

Belum hilang rasa penasaran para awak Daigo Fukuryu Maru, tujuh jam kemudian terjadi fenomena aneh lagi. Dari langit turun hujan abu pekat berwarna putih keabu-abuan. Hujan abu turun selama tiga jam penuh, membuat geladak kapal dan badan mereka berlapis abu tebal.

Tanpa prasangka apa pun, para awak kapal membersihkan abu tersebut dengan tangan kosong. Mereka sama sekali tak menyadari bahwa abu itu adalah material jatuhan radioaktif sisa ledakan bom hidrogen. ”Material radioaktif itu terlempar hingga stratosfer oleh ledakan dan baru jatuh beberapa jam kemudian. Bahkan, sebagian material radioaktif ini terbawa angin hingga daratan Amerika,” ungkap Prof Kawasaki.

Beberapa jam setelah menyentuh dan menghirup ”abu kematian” itu, para awak kapal mulai menunjukkan gejala-gejala penyakit radiasi, seperti pusing, muntah, pendarahan gusi, dan luka bakar. Kapal pun memutuskan pulang ke pangkalannya di kota Yaizu, 200 kilometer barat Tokyo.

Kepala Operator Radio Daigo Fukuryu Maru Aikichi Kuboyama (40), yang sempat membaca tentang tes bom-bom nuklir AS sebelumnya, sudah menduga bahwa kilatan cahaya dan hujan abu tersebut adalah efek uji coba bom nuklir. Namun, ia sengaja tak memberitahukan insiden yang ditimpa kapalnya melalui radio ke Jepang karena takut komunikasi radio itu disadap oleh pasukan AS dan mereka bisa ditangkap untuk menghilangkan saksi.

Baru setelah mereka tiba di Yaizu, 14 Maret 1954, dan semua kru dirujuk ke sebuah rumah sakit di Tokyo untuk perawatan penyakit radiasi akut, kisah mereka mulai tersebar. Harian Yomiuri Shimbun pertama kali menurunkan berita itu dua hari setelah kapal tiba di Yaizu.

Kontaminasi

Jepang, yang masih dicekam trauma tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pun geger. Pemeriksaan radiasi pun dilakukan secara lebih mendetail, dan terungkap bahwa material radioaktif tidak hanya mencemari kapal dan awaknya, tetapi juga seluruh tangkapan ikan tuna yang dibawa kapal itu.

Penyelidikan lebih lanjut menemukan, saat terjadi uji coba bom hidrogen tersebut, tidak hanya Daigo Fukuryu Maru yang berada di perairan Samudra Pasifik. Setidaknya terdapat 856 kapal nelayan Jepang yang turut terkena dampak ledakan bom itu. Sebanyak 485 ton ikan tuna tangkapan mereka juga dikhawatirkan terkontaminasi.

Masalah menjadi rumit karena ikan-ikan tuna ini sudah telanjur beredar di pasar. Kepanikan pun tersebar ke seluruh Jepang, negara yang sebagian besar warganya gemar menyantap hidangan ikan mentah. Otoritas Jepang melakukan operasi ke pasar-pasar ikan dan menguburkan secara massal ikan tuna yang terbukti terkontaminasi.

Pihak AS sendiri pada awalnya sempat membantah bahwa penyakit yang diderita awak kapal Daigo Fukuryu Maru adalah efek radiasi dari uji coba bom hidrogen di Atol Bikini.

Insiden Daigo Fukuryu Maru menyulut gerakan antisenjata nuklir di Jepang dan negara-negara lain. Namun, kasus ini akhirnya dianggap selesai setelah AS membayar ganti rugi sebesar 2 juta dollar AS kepada Pemerintah Jepang.

Dari 23 awak kapal itu, Kuboyama menderita sakit yang paling parah. Ia akhirnya meninggal pada 23 September tahun yang sama, meninggalkan seorang istri dan tiga anak gadis berusia 4, 6, dan 8 tahun.

Sebelum meninggal, Kuboyama meninggalkan pesan terakhir, ”Tolong pastikan bahwa aku adalah korban terakhir bom atom dan bom hidrogen di dunia ini.” (DHF)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau