JAKARTA, KOMPAS.com — H (14) masih bingung. Dia tidak mengerti apa yang menimpa dirinya pada Rabu (27/4/2011) ketika pulang dari sekolah. Dua orang tidak dikenal tiba-tiba mencegatnya di tengah jalan. Seorang lelaki dan seorang perempuan langsung mengatakan, "Kamu kenal enggak sama Dodi."
H yang pulang bersama S (14) sama-sama bingung. Peristiwa ini terjadi sekitar 500 meter dari tempat mereka belajar di SMP Pembangunan Jaya, Pondok Ranji, Tangerang Selatan.
Keduanya kemudian mengalami pengalaman aneh hingga menyebabkan Blackberry mereka hilang. H dan S sebenarnya berusaha mengelak dengan mengatakan, "Tidak kenal." Namun, entah mengapa, keduanya tidak berdaya.
"Kalau kamu tidak mengenal Dodi, buktikan," kata kedua orang tak dikenal itu kepada mereka.
H dan S pun tiba-tiba patuh dan terus mengikuti permintaan kedua orang tidak dikenal itu. Dodi adalah tokoh rekaan yang dikarang oleh dua orang tidak dikenal itu. Dodi, menurut orang tidak dikenal itu, menculik sepupu mereka.
Diturunkan di kuburan
Kedua orang itu lalu mengajak pergi H dan S menemui orangtua sepupu mereka. Namun karena hanya mengendarai satu sepeda motor, pelaku meminta S dahulu yang pergi. Sebelum pergi, laki-laki tidak dikenal itu lalu menyuruh S menitipkan Blackberry miliknya ke H. S kemudian diturunkan di Kuburan Pladen yang terletak sekitar 500 meter dari tempat H.
Kurang dari sepuluh menit, laki-laki itu kembali menemui H. Laki-laki tidak dikenal itu meminta H ikut menyusul S. Kali ini lokasi penurunan H berbeda dengan lokasi penurunan S. H diturunkan di sekitar kompleks Perumahan Jalan Beruang, sekitar 500 meter dari rumahnya di Jalan Kuricang, Bintaro Jaya, Sektor 3.
Sesaat setelah diturunkan dari sepeda motor, pelaku meminta Blackberry H dan S (yang sebelumnya dititipkan di H). Entah mengapa, H pun tidak dapat menolak permintaan dua orang tersebut.
"Tunggu sini, nanti saya balik lagi," katanya sambil pergi. Setelah itu, dua orang tidak dikenal tersebut menghilang.
Peristiwa ini membuat konsentrasi H yang sedang menempuh ujian nasional menjadi terganggu. Pikirannya masih tertuju pada peristiwa aneh hari Rabu itu. Padahal, kemarin dia masih menyelesaikan UN hari terakhir.
Ciri-ciri dua orang tidak dikenal itu antara lain diperkirakan berusia 30 tahun. Tinggi tubuh laki-laki sekitar 170 sentimeter dan perempuan sekitar 160 cm. Keduanya memakai Honda Revo.
Bukan yang pertama
H adalah anak kedua dari pasangan mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah, Ichsan Loulembah (45) dan Desi Loulembah (40). "Mereka sepertinya menggunakan hipnotis karena anak saya tidak berdaya. Mereka jadi patuh. Mereka mengincar anak sekolah kelas menengah ke atas," ucap Ichsan.
Peristiwa ini bukan yang pertama dialami keluarga Loulembah. Januari lalu, kakak H bernama F (17) sempat dicegat tiga orang yang mengendarai taksi. Modusnya sama: mereka berpura-pura menanyakan seseorang yang tidak dikenal.
Berbeda dengan H, F lekas mencium gelagat mencurigakan. Mereka seperti mau menyergap dan membawa F ke dalam mobil. Ketika itu juga, F berlari kembali ke sekolahnya meskipun jam pelajaran sudah usai.
Tidak hanya keluarga Ichsan, ternyata pencegatan anak seusai pulang sekolah juga sering terjadi di sekolah H.
Evi (47), warga Bintaro Jaya Sektor 3, mengatakan, sejumlah siswa sekolah tersebut sempat mengalami hal sama. Sepulang sekolah, mereka dicegat oleh orang tidak dikenal yang kemudian menanyakan sesuatu. Ujung-ujungnya, barang berharga para siswa hilang diminta oleh orang tidak dikenal itu.
Menurut dia, persoalan ini sering muncul karena selama ini penjemput, tukang ojek, dan orang asing di sekolah sulit dibedakan. Akibatnya, tindak kejahatan orang asing sulit diantisipasi. Evi belakangan menjadi resah setiap pulang sekolah karena dua anaknya saat ini masih belajar di Sekolah Pembangunan Jaya. "Saya yakin pelaku menggunakan hipnotis. Saya jadi takut," katanya.
Sekolah Pembangunan Jaya terletak di kawasan Bintaro yang ramai lalu lintas. Sekolah ini dikelola Yayasan Pendidikan Jaya dengan menyediakan pendidikan mulai taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas.
Dua minggu lalu kejadian serupa menimpa siswa SD Pembangunan Jaya. Modusnya sama: orang tidak dikenal mencegat siswa yang kemudian meminta barang berharga mereka.
Bambang Riyanto, Wakil Kepala Sekolah SD Pembangunan Jaya, mengakui kasus ini. Namun, pihak sekolah tidak dapat berbuat banyak untuk mengantisipasi gangguan keamanan di luar sekolah. "Kejadian di luar lingkungan sekolah di luar tanggung jawab kami,” katanya.
Pihak sekolah, kata Bambang, sudah sering memberi nasihat agar para siswa berhati-hati ketika pulang. Namun, gangguan keamanan tetap saja terjadi. Memang di luar sekolah dan rumah tidak ada lagi yang dapat menjamin keamanan anak sekolah, selain mereka sendiri. Aparat perlu segera menjerat para pelaku yang menyasar anak ini. (Andy Riza Hidayat)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang