Jalan Rusak Hambat Ekonomi

Kompas.com - 02/05/2011, 03:01 WIB

CILACAP, KOMPAS - Sekitar 70 persen ruas jalan kabupaten, provinsi, dan nasional di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, dalam kondisi rusak akibat tingginya arus lalu lintas kendaraan berat pengangkut semen dan batu bara melampaui standar tonase. Kerusakan jalan telah menghambat perkembangan wilayah selatan Provinsi Jateng.

Dari pemantauan di lapangan, sepanjang akhir pekan kemarin, terlihat kerusakan antara lain terjadi di ruas jalan lingkar Kota Cilacap dari Karangkandri hingga Teluk Penyu sepanjang 9 kilometer (km). Kondisi lebih parah terjadi di jalur pesisir antara Kroya-Pantai Ayah, Kabupaten Kebumen. Selanjutnya ruas jalan menuju obyek wisata Pantai Widarapayung; lalu jalur alternatif Kesugihan-Menganti, Kecamatan Rawalo; serta ruas jalan antara Jeruk Legi, Kawunganten, dan Sidareja.

Wakil Bupati Cilacap Tatto S Pamudji, Minggu (1/5), bahkan mengakui total jalan rusak di Cilacap mencapai 90 persen. Dari jalan yang rusak itu, 60 persen rusak parah dan 40 persen rusak sedang. ”Hanya 10 persen yang dapat dilalui dengan nyaman.”

Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih juga mengakui, kerusakan jalan raya jadi penghambat utama wilayah Jateng selatan. Ini sangat berbeda dibanding ruas jalan di pesisir utara. ”Ini akan jadi perhatian kami,” tuturnya. Pemprov Jateng hanya bisa melakukan perbaikan jalan rutin Kebumen-Cilacap, dengan anggaran Rp 311 miliar tahun ini.

Adapun jalan raya provinsi antara Cilacap dan Pantai Pangandaran di Ciamis, Jawa Barat, juga rusak parah. Seperti di ruas Gandrungmangu-Sidareja (2 km) dan Sidareja-Rawaapu (25 km). Kondisi jalan semakin hancur akibat banyaknya truk pengangkut kayu yang melintas di malam hari. Ruas Cilacap-Majenang hingga perbatasan Banjar juga rusak parah.

Kasirun (32), pengemudi bus Cilacap-Pangandaran, mengatakan, perjalanan Sidareja-Rawaapu yang biasanya bisa ditempuh 30 menit, sat ini molor jadi 1,5 jam hingga 2 jam. ”Laju kendaraan hanya bisa 15-30 kilometer per jam karena harus melewati jalanan yang bergelombang dan berlubang,” tuturnya.

Perbaikan sebulan

Normalisasi jalur lintas Jawa Timur dan Jateng melalui Madiun-Solo diperkirakan memakan waktu minimal satu bulan. Sepanjang hari Minggu kemarin, di ruas jalan nasional Karangrejo terjadi kemacetan sepanjang 200 meter. Titik kemacetan berada di sekitar Jembatan Glodog, yakni 200 meter sebelum Pabrik Gula Purwodadi. Ruas jalan macet dari dua arah, baik arah Madiun maupun arah Solo, secara bergantian.

Sebagaimana diketahui, separuh badan jalan di Kilometer 13 Madiun-Solo, tepatnya di Dusun Glodok, Desa Karangrejo, Kecamatan Karangrejo, mengalami longsor, Minggu (24/4) pagi. Titik longsor tepat sebelum jembatan anak Sungai Bengawan Madiun. Penyebabnya, hujan deras yang menggerus penyangga jalan.

Adapun kerusakan jalan juga terjadi di sebagian ruas jalan dari Kota Padang menuju Kabupaten Solok, Kota Solok, hingga Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Selain kondisi jalan berlubang, ketiadaan lampu penerangan jalan juga menciptakan kondisi yang berbahaya untuk pengemudi. Perjalanan antara Kota Padang dan Kabupaten Solok Selatan sekitar 170 km harus ditempuh sekitar lima jam.(NIK/GRE/INK)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau