Sepak terjang nii

Aktivis NII Masuk ke Parpol?

Kompas.com - 02/05/2011, 21:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia, Imam Supriyanto, memberikan kesaksian bahwa aktivis Negara Islam Indonesia (NII) mulai masuk ke sejumlah partai politik, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Republikan. Hal itu dia katakan seusai bertemu Wakil Ketua DPR asal Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (2/5/2011).

"Aktivis NII tersebut baru sebatas anggota, belum menjadi pengurus," kata Imam.

Menurut dia, NII Komandemen Wilayah IX (NII KW IX) yang dipimpin oleh Syeh Panji Gumilang juga sedang melakukan perekrutan banyak anggota dari generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa. Pada rekrutmen tersebut, kata dia, NII KW IX tidak mengajarkan ideologi teror dan kekerasan, tetapi mengajarkan membayar infak dan sedekah. Bahkan, kata dia, putra pimpinan NII KW IX, Syeh Panji Gumilang, saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Golkar.

Imam menambahkan, pimpinan partai politik juga menjalin hubungan baik dengan Syeh Panji Gumilang dan kadang berkunjung ke Pondok Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.

Menanggapi kesaksian Imam, Priyo mengatakan, dia merasa kaget ketika tamunya yang merupakan mantan pejabat NII menjelaskan soal strukur dan pengurus NII. Dari penjelasan tersebut, katanya, dia mengetahui NII KW IX dipimpin oleh Syeh Panji Gumilang dengan struktur kabinetnya.

Dalam pertemuannya dengan Priyo hari ini, sejumlah mantan petinggi NII juga menjelaskan tentang informasi aset NII yang mencapai ratusan miliar yang pernah disimpan di Bank Century.

Imam membenarkan bahwa Panji Gumilang memiliki hubungan dekat dengan pemilik Bank Century, Robert Tantular. Panji mendepositokan uang Rp 250 miliar ke Bank Century. "Waktu itu masih Bank CIC. Panji punya hubungan dengan Robert Tantular, pendiri Century. CIC dulu sebelum jadi bank adalah money changer. Aset-asetnya tanah dan bangunan yang jadi pesantren. Usahanya ternak sapi perah," tandasnya.

Pekan lalu, kepada Tribunnews, Imam juga mengungkapkan bahwa aset NII senilai Rp 250 miliar juga diobligasikan dalam bentuk emas batangan yang ditaksir memiliki berat mencapai 20 ton.

"Kalau dirupiahkan, seingat saya ada Rp 250 miliar. Itu dalam bentuk obligasi dan emas batangan lebih kurang beratnya 20 ton," kata Imam Supriyanto, Kamis (28/4/2011).

Imam mengaku resmi meninggalkan NII pada tahun 2007 setelah mendapat nasihat dari ibundanya yang lebih dahulu keluar dari NII.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau