Pengadaan Beras Semakin Sulit

Kompas.com - 03/05/2011, 03:23 WIB

Jakarta, Kompas - Pengadaan beras oleh Perum Bulog diperkirakan akan semakin sulit dilakukan. Badan Pusat Statistik menyebutkan, ada kecenderungan harga gabah kering panen naik. Panen di sejumlah daerah dilaporkan juga sudah selesai. Harga beras diperkirakan naik pada bulan Mei ini.

Laporan BPS menyebutkan, selama bulan April 2011, harga gabah di tingkat petani sudah naik. Harga gabah kering panen (GKP) petani naik 4,26 persen menjadi Rp 3.178,45 per kilogram, sedangkan GKP di penggilingan naik 4,38 persen menjadi Rp 3.241,74 per kg.

Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) di petani rata-rata turun 4,64 persen menjadi Rp 3.707,42 per kg, sedangkan GKG di penggilingan atau eceran Rp 3.771,49 per kg atau turun 5,05 persen.

Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, tren kenaikan GKP di petani akan membuat Perum Bulog semakin sulit untuk menyerap gabah petani. Apalagi, harga jual GKP masih masih lebih tinggi di atas harga penetapan pemerintah (HPP). Dikhawatirkan, harga gabah yang naik itu akan mendorong peningkatan harga beras pada bulan Mei 2011.

”Panen raya sudah berkurang, bisa saja harga beras mulai mengalami kenaikan bulan depan. Ini bisa memicu inflasi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang sekaligus pengusaha pengilingan, Billy Haryanto, mengatakan, sulit bagi Perum Bulog mencapai target pengadaan sekalipun mengerahkan pedagang induk untuk menjual beras.

Di tengah situasi ini, pemerintah belum berniat mengimpor beras. Pemerintah masih optimistis dengan penyerapan beras Perum Bulog.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan, stok beras yang ada di Perum Bulog dinilai aman sehingga wacana impor belum diperlukan.

Sementara itu, fluktuasi harga beras yang makin tidak teratur menarik siapa pun mencoba peruntungan dalam bisnis beras, termasuk para pengusaha besar.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Lampung Bustanul Arifin mengungkapkan, saat ini sedang terjadi pergeseran pasar beras domestik. Hal ini terjadi sejak krisis pangan 2008. ”Tapi apakah ini sudah menjadi format baru atau sekadar kejutan, masih perlu ditunggu fenomenanya,” katanya.

Bustanul menjelaskan, sebelum krisis pangan 2008 kenaikan harga beras bisa ditebak. Namun pascakrisis, harga berfluktuasi dan makin tidak teratur.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Jakarta Nellys Soekidi, di Indonesia saat ini pemain beras besar banyak tumbuh.

Sementara itu, kemarin, Badan Pusat Statistik merilis, harga-harga selama April mengalami deflasi sebesar 0,31 persen.

Dengan deflasi itu, tingkat inflasi umum tahun kalender Januari-April 2011 terkoreksi menjadi 0,39 persen. Adapun laju inflasi tahunan (year on year) terhadap bulan April 2010 sebesar 6,16 persen.

”Bahan makanan masih menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran rumah tangga yang mengalami deflasi pada bulan April 2011,” ujar Rusman.

Harga bahan makanan selama April mengalami deflasi -1,9 persen. Pemicu terbesar adalah bawang merah, yakni -0,13 persen, cabai merah -0,11 persen, cabai rawit -0,11 persen, dan beras -0,06 persen. (MAS/LKT/ENY/ONI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau