Laporan BPS menyebutkan, selama bulan April 2011, harga gabah di tingkat petani sudah naik. Harga gabah kering panen (GKP) petani naik 4,26 persen menjadi Rp 3.178,45 per kilogram, sedangkan GKP di penggilingan naik 4,38 persen menjadi Rp 3.241,74 per kg.
Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) di petani rata-rata turun 4,64 persen menjadi Rp 3.707,42 per kg, sedangkan GKG di penggilingan atau eceran Rp 3.771,49 per kg atau turun 5,05 persen.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, tren kenaikan GKP di petani akan membuat Perum Bulog semakin sulit untuk menyerap gabah petani. Apalagi, harga jual GKP masih masih lebih tinggi di atas harga penetapan pemerintah (HPP). Dikhawatirkan, harga gabah yang naik itu akan mendorong peningkatan harga beras pada bulan Mei 2011.
”Panen raya sudah berkurang, bisa saja harga beras mulai mengalami kenaikan bulan depan. Ini bisa memicu inflasi,” ujarnya.
Di tempat terpisah, pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang sekaligus pengusaha pengilingan, Billy Haryanto, mengatakan, sulit bagi Perum Bulog mencapai target pengadaan sekalipun mengerahkan pedagang induk untuk menjual beras.
Di tengah situasi ini, pemerintah belum berniat mengimpor beras. Pemerintah masih optimistis dengan penyerapan beras Perum Bulog.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan, stok beras yang ada di Perum Bulog dinilai aman sehingga wacana impor belum diperlukan.
Sementara itu, fluktuasi harga beras yang makin tidak teratur menarik siapa pun mencoba peruntungan dalam bisnis beras, termasuk para pengusaha besar.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Lampung Bustanul Arifin mengungkapkan, saat ini sedang terjadi pergeseran pasar beras domestik. Hal ini terjadi sejak krisis pangan 2008. ”Tapi apakah ini sudah menjadi format baru atau sekadar kejutan, masih perlu ditunggu fenomenanya,” katanya.
Bustanul menjelaskan, sebelum krisis pangan 2008 kenaikan harga beras bisa ditebak. Namun pascakrisis, harga berfluktuasi dan makin tidak teratur.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Jakarta Nellys Soekidi, di Indonesia saat ini pemain beras besar banyak tumbuh.
Sementara itu, kemarin, Badan Pusat Statistik merilis, harga-harga selama April mengalami deflasi sebesar 0,31 persen.
Dengan deflasi itu, tingkat inflasi umum tahun kalender Januari-April 2011 terkoreksi menjadi 0,39 persen. Adapun laju inflasi tahunan (year on year) terhadap bulan April 2010 sebesar 6,16 persen.
”Bahan makanan masih menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran rumah tangga yang mengalami deflasi pada bulan April 2011,” ujar Rusman.
Harga bahan makanan selama April mengalami deflasi -1,9 persen. Pemicu terbesar adalah bawang merah, yakni -0,13 persen, cabai merah -0,11 persen, cabai rawit -0,11 persen, dan beras -0,06 persen.