Tiga TKI Melahirkan di Atas KM Labobar

Kompas.com - 03/05/2011, 03:45 WIB

Padang, Kompas - Kapal Motor Labobar yang mengangkut 2.351 tenaga kerja Indonesia bermasalah dari Jeddah, Arab Saudi, Senin (2/5) sekitar pukul 09.00, merapat di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatera Barat. Seorang TKI asal Pontianak, Musrifah binti Komar (50), meninggal dunia dan tiga TKI lainnya melahirkan dalam perjalanan di atas kapal.

Ketua Tim Pemulangan TKI bermasalah dari Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Nugroho Mujianto, mengatakan, Musrifah diketahui meninggal hari Sabtu (30/4) setelah mengalami gagal ginjal. Musrifah yang bekerja sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT) meninggal dunia saat kapal berlayar di Samudra Hindia.

KM Labobar mengangkut 2.351 TKI yang bermasalah di Arab Saudi dan beritanya pernah muncul di sejumlah televisi nasional sekitar sebulan lalu. KM Labobar Senin lalu singgah di Padang untuk mengisi persediaan air tawar dan perbekalan lain. ”Hal ini sudah direncanakan sejak dari Jeddah,” kata Nugroho.

Jenazah Musrifah, menurut Nugroho, masih dibekukan dalam lemari pendingin KM Labobar dan tetap diberangkatkan menuju Jakarta, Senin (2/5) pukul 22.00.

Tiba Rabu di Jakarta

KM Labobar diperkirakan akan merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/5) sekitar pukul 06.00.

Nugroho mengatakan, jenazah baru akan dimasukkan dalam peti saat tiba di Jakarta untuk selanjutnya dikirim ke kampung halamannya.

TKI yang dipulangkan adalah 1.139 orang berasal dari Jawa Barat (Jabar), dan sisanya dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Lampung, dan Jambi. Semua penumpang akan diangkut ke Jakarta dan baru dipulangkan ke daerah masing-masing, termasuk jenazah Musrifah.

Di Padang, dua TKI hamil dan seorang bayi berusia enam hari bersama ibunya diturunkan untuk menjalani perawatan di RSUP Dr M Djamil. Mereka adalah dua ibu hamil asal NTB bernama Elza Huraina (29) dan Imas (27) asal Cianjur, Jabar, serta bayi perempuan bernama Annisa Meganur Labobarina yang berusia enam hari.

Annisa saat ini dirawat intensif dalam sebuah inkubator di RSUP Dr M Djamil, dengan ditunggui ibunya, Mariam (35), asal Cianjur.

Selain Mariam, dua TKI lain juga melahirkan di atas kapal. Mereka adalah Rubiah binti Musa Hasan asal NTB, yang melahirkan bayi laki-laki bernama Muhammad Laborasyah pada Sabtu (30/4) lalu, dan Nurdiana asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), melahirkan bayi laki-laki Muhammad Syafarudin Labobar, Minggu (24/4).

Selain TKI hamil dan melahirkan, sejumlah TKI juga mengalami gangguan penyakit, seperti ginjal, jantung, dan TBC. ”Selebihnya penyakit-penyakit ringan,” kata Nugroho. Namun, dalam pemeriksaan oleh petugas Dinas Kesehatan Sumbar, sejumlah anak balita diketahui menderita campak.

Nugroho menambahkan, ketika berangkat dari Jeddah, Jumat (22/4), KM Labobar mengangkut 2.349 orang. Dalam perjalanan, satu orang meninggal dan tiga bayi lahir sehingga jumlahnya menjadi 2.351 orang. Rinciannya, 2.131 perempuan (120 di antaranya hamil), 32 laki-laki, 114 anak-anak, dan 74 orang bayi.

Mengenai kewarganegaraan anak-anak yang lahir di Arab Saudi, Nugroho memastikan sebagai WNI. ”Sulit menuntut pertanggungjawaban dari ayah biologisnya,” katanya. (INK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau