Respon Stres yang Membunuh Kita

Kompas.com - 03/05/2011, 10:49 WIB

KOMPAS.com - Jika anda mengatakan tidak pernah mengalami stres dalam kehidupan, saya rasa anda adalah pembohong paling besar yang pernah hidup di dunia ini.

Mengapa saya berani mengatakan demikian? Hal ini karena stres sebenarnya adalah sesuatu yang normal terjadi dalam kehidupan manusia. Apa yang membuat orang stres adalah karena keseimbangan (homeostasis) yang terganggu dalam tubuhnya. Respon yang terjadi bisa respon fisiologis (fisik) dan respon psikologis (kejiwaan).

Sebelum ke pembahasan lebih lanjut, saya hanya ingin menekankan bahwa stres yang dimaksud ini adalah kumpulan respon fisiologis maupun emosional terhadap stimulus apapun yang mengganggu keseimbangan seseorang. Stres di sini bukan yang dimaksud sebagai gangguan kejiwaan seperti depresi maupun skizofrenia, yang sering disalahartikan oleh masyarakat.

Stres baik dan stres jahat

Stres tidak selalu buruk. Hans Seyle mengatakan ada dua kategori stres yaitu Eustress dan Distress. Eustress adalah stres yang baik yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu lebih baik lagi. Stres ini diadaptasi dengan baik oleh tubuh sebagai suatu respon yang normal dan memberikan rasa nyaman dalam melakukannya.

Sebaliknya, Distress adalah stres yang buruk, yang membuat orang menjadi tidak nyaman baik secara fisik maupun psikis. Stres ini diakibatkan respon adaptasi yang kurang baik yang dilakukan oleh individu tersebut.

Contoh yang mudah adalah ketika kita sedang macet di jalan. Faktor yang bisa disebut sebagai stresor (hal yang membuat stres) ini bisa diartikan berbeda untuk setiap orang. Bagi yang sedang macet bersama orang yang sedang ditaksirnya, mungkin macet yang lama makin menyenangkan karena waktu bersama akan semakin banyak. Sedangkan jika ada kondisi yang sama buat pasangan yang sedang berkelahi atau sedang ribut, maka respon yang didapatkan akan sangat tidak nyaman.

Jangan dipegang lama-lama

Bila mengikuti hukum fisika, bahwa energi itu akan berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain, maka demikian juga dengan stres. Kita sering menjadi tidak nyaman dengan stres karena selain persepsi kita terhadap stres yang negatif, stres ini juga kita pegang terlalu lama.

Perumpamaan yang baik adalah ketika kita memegang sebuah gelas berisi air. Jika kita memegang gelas tersebut hanya dalam waktu 1 menit mungkin tidak akan terasa, tapi coba jika kita pegang dalam posisi yang sama selama 1 jam. Pasti kita akan merasakan yang tidak nyaman. Begitupun juga stresor, hal yang membuat kita tidak nyaman jika kita pegang lama-lama juga akan menimbulkan efek yang tidak nyaman buat tubuh kita.

Respon yang dilatih

Merespon stres secara positif memang bukan pekerjaan mudah. Ini perlu latihan seumur hidup. Secara otomatis respon kita terhadap stres yang datang adalah negatif. Bagaimana kita berpikir sebaliknya adalah respon yang didapatkan melalui latihan yang lama. Kita perlu menyadari kalau hal-hal ini bisa dipelajari dan dilatih dalam setiap kesempatan.

Selama kita masih dapat berpikir dengan baik, maka respon kita terhadap stres bisa berubah. Tergantung kita mau ke arah yang baik dan yang buruk, respon kita terhadap stres ini yang bisa menyelamatkan atau membunuh kita.

Salam Sehat Jiwa !

Dr. Andri, SpKJ, Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau