Sepak terjang nii

PDI-P Yakin Tak Disusupi Aktivis NII

Kompas.com - 03/05/2011, 12:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufik Kiemas mengatakan, belum melihat tanda-tanda penyusupan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) di dalam partainya. Taufik menyadari bahwa gerakan NII bisa masuk ke unsur mana saja. Akan tetapi, dia yakin PDI Perjuangan tak tersusupi.

"Siapapun bisa kesusupan. Mudah-mudahan, insyallah (tidak). Mudah-mudahan aman," katanya kepada wartawan, Selasa (3/5/2011).

Menurutnya, partai juga memiliki tanggung jawab untuk terus menguatkan ideologi bagi para kader dan akar rumputnya. PDI Perjuangan sendiri, lanjutnya, terus memperkuat ideologi di internal partai sehingga meminimalisir tersusupi paham ideologi lainnya. Sampai saat ini, Taufik mengaku belum menegarai adanya penyusupan ideologi NII di internal partainya.

"Kalau PDI Perjuangan belum ya. Kalau ketahuan, pasti sudah tahu. Semua kemungkinan bisa terjadi," ungkapnya.

Menurut suami Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ini, ideologi merupakan jawaban dari kekhawatiran dan kecemasan publik terhadap gerakan NII belakangan ini. Taufik mengingatkan, dirinya dan pimpinan MPR memprakarsai sosialisasi empat pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk memperkuat ideologi di tengah masyarakat. Banyak yang menganggap remeh, tetapi MPR tetap maju.

"Kita kan selama 10 tahun ini tidak pernah bicara tentang Pancasila. Siapa yang pernah ngomong? Jarang. Kalau kita ngomong, pesimis. Berjuang belum, sudah pesimis. Ideologi ini sudah lama," tandasnya.

Mantan Menteri NII, Imam Supriyanto, dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, kemarin, mengungkapkan, aktivis Negara Islam Indonesia (NII) mulai masuk ke sejumlah partai politik, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Republikan.

"Aktivis NII tersebut baru sebatas anggota, belum menjadi pengurus," kata Imam.

Menurut dia, NII Komandemen Wilayah IX (NII KW IX) yang dipimpin oleh Syeh Panji Gumilang juga sedang melakukan perekrutan banyak anggota dari generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa. Pada rekrutmen tersebut, kata dia, NII KW IX tidak mengajarkan ideologi teror dan kekerasan, tetapi mengajarkan membayar infak dan sedekah. Bahkan, kata dia, putra pimpinan NII KW IX, Syeh Panji Gumilang, saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Golkar.

Imam menambahkan, pimpinan partai politik juga menjalin hubungan baik dengan Syeh Panji Gumilang dan kadang berkunjung ke Pondok Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau