JAKARTA, KOMPAS.com — Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada April 2011 berdasarkan perhitungan formula ICP mencapai 123,36 dollar AS per barrel. Ini berarti, harga minyak mentah Indonesia meningkat 10,29 dollar AS per barrel dari bulan Maret 2011 yang mencapai 113,07 dollar AS per barrel.
Sementara harga Minas (jenis minyak mentah yang dihasilkan Chevron dari lapangan minyak di Riau) atau sweet light crude/SLC (minyak mentah dengan kadar sulfur rendah) mencapai 125,93 dollar AS per barrel, naik 11,77 dollar AS per barrel dari 114 dollar AS per barrel pada Maret 2 011.
Menurut laporan tim kajian harga minyak, sebagaimana dikutip dalam situs Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, peningkatan ICP itu seiring dengan perkembangan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah krisis politik berkepanjangan di Timur Tengah dan Afrika Utara, khususnya perang di Libya, menimbulkan kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan minyak mentah dari kawasan itu.
Selain itu, anggota OPEC juga dinilai belum bisa mengganti hilangnya pasokan minyak mentah dari Libya. Hal ini ditandai oleh penurunan produksi OPEC hingga 1 juta barrel per hari pada Maret dibandingkan Februari 2011 dan melemahnya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang internasional lain akibat keputusan Federal Reserve AS untuk mempertahankan kebijakan tingkat suku bunga yang rendah.
Faktor lainnya adalah menurunnya stok minyak komersial AS. Berdasarkan data minggu terakhir Energy Information Administration (EIA) AS, dibandingkan dengan data awal April 2011, stok gasolin turun 11,1 juta barrel dan stok distillate fuel turun 7 juta barrel.
Kenaikan harga minyak mentah juga disebabkan peningkatan perkiraan permintaan minyak mentah dunia berdasarkan sejumlah sumber. Laporan Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan, pada April 2011 diperkirakan tingkat konsumsi minyak dunia tahun 2011 meningkat 1,5 juta barrel per hari dibandingkan dengan tahun 2010 yang dipicu kenaikan konsumsi negara-negara Asia, khususnya China.
Sementara EIA dalam laporan bulan April 2011 memperkirakan tingkat konsumsi dunia tahun 2011 mencapai 88,2 juta barrel per hari atau meningkat 1,5 juta barrel per hari dibandingkan tahun 2010. Pertumbuhan permintaan ditopang oleh konsumsi negara-negara non-OECD, terutama China, Brasil, dan Timur Tengah.
OPEC dalam laporan April 2011 memperkirakan tingkat konsumsi minyak dunia tahun 2011 mencapai 87,9 juta barrel per hari atau meningkat 1,4 juta barrel per hari dibandingkan tahun 2010 yang ditopang oleh tingginya permintaan produk minyak pada kuartal I-2011 saat musim dingin serta pertumbuhan permintaan minyak dari negara non-OECD Asia, khususnya permintaan minyak India yang diperkirakan naik hingga 3,5% pada tahun 2011.
Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga disebabkan masih tingginya permintaan minyak China dengan proyeksi pertumbuhan 0,9 juta barrel per hari serta tingginya pertumbuhan ekonomi India yang mendorong peningkatan permintaan jet fuel dan kerosene. Selain itu, pascagempa dan tsunami, permintaan Jepang terhadap minyak mentah, terutama direct burning, juga mengalami peningkatan untuk memenuhi kebutuhan akan listrik dan upaya rekonstruksi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang