Tsunami jepang

Penurunan Produksi Berimbas pada Buruh

Kompas.com - 04/05/2011, 03:12 WIB

Jakarta, Kompas - Bencana tsunami yang menerjang kota Sendai, bagian utara Jepang, 11 Maret 2011, menghancurkan pabrik komponen untuk elektronik dan otomotif di wilayah itu. Akibatnya, produksi industri manufaktur elektronik dan otomotif nasional—yang bergantung pada pasokan komponen dari Jepang—turun.

Imbasnya, jam kerja menurun dan tidak ada lembur lagi. ”Bulan lalu dan bulan ini tidak ada lembur karena perusahaan yang menjadi konsumen onderdil elektronik sedang mengurangi produksi,” tutur Sanusi (37), buruh di pabrik pembuat onderdil elektronik di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (3/5).

Padahal, besar uang lembur bisa melebihi gaji pokok. Sanusi yang mempunyai gaji pokok Rp 1,7 juta bisa membawa uang Rp 3,9 juta per bulan apabila ada lembur. Menurut Sanusi, waktu lembur kini berangsur dikurangi setelah gempa dan tsunami di Jepang.

Padahal, uang lembur itu merupakan tambahan yang besar karena bisa melebihi gaji pokok. Gejala pengurangan gaji sudah terasa saat penerimaan upah bulan April. ”Saya hanya terima Rp 3,1 juta karena lembur sudah berkurang pada Maret,” kata Sanusi.

Gaji bulan lalu tergolong lumayan karena masih ada sedikit upah lembur. Penerimaan bulan Mei inilah yang dikhawatirkan karena lembur sama sekali tidak ada. Pekerja hanya bekerja sesuai dengan waktu giliran kerja yang telah ditentukan.

Sejumlah pekerja kontrak yang masa kerjanya habis pada bulan-bulan ini juga menerima nasib lebih buruk. Kontrak mereka diputus sementara sampai order yang diterima perusahaan membaik.

Rasionalisasi

Keresahan juga menghinggapi para pekerja di PT Meiwa Indonesia, perusahaan produsen interior otomotif yang berlokasi di Jalan Raya Bogor, Depok, Jabar. Di perusahaan itu juga tak ada lagi waktu lembur. ”Padahal, pada saat lembur, kami bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Setelah tsunami di Jepang, jam lembur tidak ada,” kata Sugino, karyawan PT Meiwa Indonesia yang juga Ketua Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan Depok.

Pascabencana di Jepang, kini tidak ada lagi kepastian masuknya bahan baku dari negara itu. Konsumen utama PT Meiwa Indonesia adalah perusahaan otomotif Jepang, seperti Toyota, Suzuki, dan Yamaha. Apabila kondisi ini tidak berubah, para pekerja khawatir ada rasionalisasi. Pengalaman itu pernah terjadi pada 2008 akibat krisis global. Ketika itu, 370 karyawan PT Meiwa Indonesia mengalami pensiun dini.

Sementara itu, PT Sanyo Jaya Components Indonesia (SJCI) di Depok, yang memproduksi kamera digital, telah merumahkan 300 buruh kontrak pascabencana di Jepang. Namun, Slamet Riyadi, Supervisor Ekspor Impor PT SJCI, menyatakan, sampai saat ini belum ada keputusan merumahkan karyawan tetap sebanyak 5.000 orang.

Meski demikian, menurut Slamet, para pekerja tetap dihantui rasa khawatir karena suplai sejumlah bahan baku dari Jepang sampai saat ini tidak jelas. Pasokan lensa dari Jepang untuk dua model kamera digital, misalnya, berhenti total. Hal ini terjadi karena tempat produsen lensa dari Jepang hancur dihantam tsunami.

”Oleh sebab itu, untuk sementara waktu dua model kamera itu tidak dibuat lagi,” katanya.

Imbas melambatnya produksi sejumlah perusahaan juga dirasakan warga di sekitar pabrik otomotif dan barang elektronik buatan Jepang. Munawati (53), warga Kelurahan Karangasem Timur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jabar, mengaku, dalam sebulan terakhir omzet warung kelontongnya turun dari Rp 600.000 menjadi Rp 400.000 per hari karena pekerja PT Gaya Motor berkurang pascatsunami Jepang. PT Gaya Motor masih satu grup dengan PT Astra International.

”Dua pekerja bagian kayu yang indekos di rumah saya memilih keluar. Mereka nglaju dari rumahnya di Sukabumi supaya lebih irit. Soalnya, sekarang ini sehari masuk, sehari libur,” tutur Munawati yang tinggal di sekitar pabrik. (GAL/MDN/ndy/ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau