Kalau Anak Harus Segera Disunat

Kompas.com - 04/05/2011, 09:06 WIB

KOMPAS.com - Proses sirkumsisi atau sunat tidak selamanya dilakukan sesuai dengan rencana atau pun keinginan. Ada kalanya, kondisi atau kelainan tertentu membuat lelaki - khususnya anak-anak yang memang berencana disunat di usia tertentu  - harus menjalani prosedur sirkumsisi lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Kondisi paling umum yang mengharuskan anak segera melakukan sunat adalah kelainan yang disebut fimosis. Kondisi ini berupa terjadinya penyempitan dan pelengketan pada ujung kulit bagian depan penis sehingga kepala penis tidak bisa terbuka sepenuhnya.

"Fimosis itu penyempitan kulit penutup kepala penis. Jadi pada saat anak pipis, urinnya itu tidak keluar secara sempurna,  seperti kejepit, kata dr. Tony Yurizal BM, Medical Manager Rumah Sunatan, Selasa, (3/4/2011) di Jakarta.

Fimosis dapat menyebabkan penumpukan smegma (kotoran hasil sekresi kelenjar kulup) di sekitar kepala penis. Penumpukan kotoran ini dapat memicu penyebaran berbagai bakteri yang menyebabkan infeksi dan peradangan.

Menurut  Tony, gejala yang ditimbulkan apabila anak mengalami fimosis umumnya adalah susah buang air kecil. Jika sudah seperti itu, salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan melakukan prosedur sirkumsisi. "Jadi dia harus disunat supaya pipisnya lancar," imbuhnya.

Fimosis, lanjut Tony, dapat terjadi  karena faktor kongenital (bawaan sejak lahir) atau pun akibat proses. Proses artinya terjadi akibat tidak pernah dibersihkannya ujung penis pada anak secara teratur.

Selain dua hal tersebut, lanjut Tony, fimosis juga bisa timbul karena faktor keturunan. "Berdasarkan penelitian, bahwa anak yang orang tuanya dulu seperti itu, biasanya berpengaruh juga pada turunannya," paparnya.

Bila tidak ditangani, fimosis dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing, dan infeksi pada kepala penis. Gejala yang tampak jika infeksi terjadi adalah kepala penis akan tampak membengkak dan meradang, serta rasa sakit ketika kencing.

"Fimosis itu suatu keadaan dan bukan penyakit. Suatu keadaan di mana kulitnya sempit jadi berpengaruh terhadap keluarnya urin," imbuhnya.

Makin belia, makin mudah

Tony menambahkan, melakukan prosedur sirkumsisi di usia yang sangat belia  sebenarnya menguntungkan dari sisi medis, karena proses penyembuhannya akan semakin cepat dan mudah.

"Dari bayi dilakukan lebih cepat lebih baik, karena prinsip pada bayi itu dia punya regresi selnya cepat, jadi proses penyembuhannya juga cepat," kata Tony.

Sebagai gambarannya Tony mengambil contoh proses penyembuhan tali pusar bayi yang sangat singkat. "Seperti tali pusarnya kan cepat sembuh. Jadi makin cepat sunat dilakukan makin baik. Tidak tergantung usia," jelasnya.

Meski begitu, bukan berarti semua bayi secara otomatis bisa disunat begitu saja. Menurutnya, tetap harus ada pemeriksaan kesehatan si bayi. Pasalnya, jika bayi dalam keadaan sakit atau mengalami kelainan tertentu, tidak mungkin untuk dilakukan prosedur sunat.

"Kita periksa kesehatan jasmaninya dulu, baru lokalnya. Kalau dia dalam keadaan sakit nggak mungkin kita lakukan khitan," cetusnya.

Lebih lanjut Tony menjelaskan, bayi dikategorikan sehat dan siap untuk disunat kalau kadar bilirubinnya bagus. Selain itu, kondisi lokal (penis) bayi pun harus memenuhi syarat, karena tidak semua bayi yang lahir penisnya langsung keluar.

"Ada bayi yang langsung keluar penisnya, ada yang belum keluar penisnya secara maksimal. Jadi kalau belum keluar gimana mau disunat?" pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau