Ekspedisi citarum

Karamnya Industri Perahu Cikaobandung

Kompas.com - 04/05/2011, 16:19 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com — “Selamat Datang di Kampung Perahu Kampung Batujaya Desa Cikaobandung”. Kalimat sambutan tanpa huruf a pada kata “datang” itu terpampang di gapura besi setinggi 10 meter di jalan masuk menuju Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Gapura itu seperti ingin menegaskan Cikaobandung sebagai sentra pembuatan perahu kayu.

Akan tetapi, informasi tentang banyaknya pembuat perahu di desa itu belum terlihat buktinya. Di jalan desa sejauh 2 kilometer (km) hanya satu perahu yang ditinggalkan perajinnya. Indikasi karamnya pembuatan perahu di Desa yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Purwakarta ini mulai mengusik Tim Ekspedisi Citarum.

Berdasarkan cerita para perajin, ketenaran Cikaobandung sebagai kampung perahu tidak lepas dari peran warga bernama Haji Mansyur. Perajin hawu (kapur) ini adalah pembuat perahu pertama di Cikaobandung. Perahu itu digunakan mengangkut bahan baku hawu berupa cangkang kerang. Rutenya ialah Sungai Cikaobandung - Sungai Citarum  - Muaragembong – Tanjungpriok.

Menilik penggunaan Citarum sebagai jalan utama, bisa disimpulkan aktivitas itu dilakukan sebelum 1925. Alasannya, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membendung Citarum dengan membangun Bendungan Walahar untuk irigasi pada tahun 1925. Keberadaan Walahar membuat alur Citarum memiliki pintu yang tidak bisa dilewati oleh perahu.

Entang, salah satu perajin, mengatakan, masa emas pembuatan perahu terjadi hingga akhir 1990. Saat itu, setidaknya ada 20 perajin yang aktif membuat perahu. Setiap perajin memiliki 4-5 orang pekerja. Dalam sebulan, rata-rata ada pesanan 20 perahu. “Dari perahu, saya mampu membangun rumah seharga Rp 21 juta,” ujarnya bangga.

Adi (61), perajin lainnya, menuturkan, ia memproduksi sekitar 600 perahu berbagai ukuran sejak 1980. Sebanyak 400 perahu di antaranya dipesan penambang pasir di Citanduy dan 200 lainnya dipesan penambang pasir di Citarum.

Sebuah perahu biasanya dikerjakan perajin selama empat hari. Bagian tersulit ialah saat membuat lunas dan sambungan antar lembar jati di dinding perahu. Keduanya penentu perahu tidak oleng atau bocor saat dibawa berlayar. Perajin membanderol perahu seharga Rp 2 juta dengan jaminan layak pakai 3 tahun. Konsumen terbesar perahu Cikaobandung adalah penambang pasir Sungai Citarum dan peternak ikan di Waduk Jatiluhur.

Tenggelam

Nama besar kampung perahu itu kian tenggelam karena minimnya pesanan. Hal itu diakibatkan oleh makin berkurangnya aktivitas penambangan pasir di Citarum. Pasir sulit didapat karena dasar Citarum tertutup lumpur. Akibatnya, penambang memilih alih profesi jadi buruh tani. Sentra pembuatan perahu Cikaobandung kini hanya menyisakan dua perajin dengan empat pekerja.

Ledakan petambak ikan di Jatiluhur mengakibatkan waduk semakin sesak, sehingga pembukaan usaha tambak baru bagi orang lain sudah tidak mungkin.Akibatnya, jarang ada petambak baru yang memesan perahu.

Entang menuturkan, pada era 90-an pesanan perahu mulai turun drastis. Di masa jayanya, ia bisa meraih penghasilan 600.000 per hari. Kini, Entang terpuruk sebagai buruh pembuat perahu yang setiap harinya dibayar Rp 60.000. Padahal, untuk membiayai lima anggota keluarganya, ia memerlukan Rp 40.000 hanya untuk makan sehari. Ia pun kini terpaksa menumpuk hutang di warung tetangga sebesar Rp 600.000.

Sepinya pesanan perahu besar bagi penambang pasir membuat Entang mengalihkan pembuatan ke perahu yang lebih kecil untuk transpotasi petambak ikan Jatiluhur. Bila harga perahu besar berukuran 9 m x  7 m mencapai Rp 2 juta, perahu kecil ukuran 7 m x 12 m hanya Rp 500.000. Perahu jenis ini biasanya lebih cepat terjual karena harganya lebih murah. Dalam sebulan biasanya ada dua perahu kecil yang terjual.

Adi, menambahkan, hingga kini ia masih menyimpan perahu yang belum laku terjual sejak 5 tahun yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menjadi buruh pencari kayu bakar. Dalam sehari, Adi mendapat sekubik kayu bakar yang dijual Rp 30.000 per kubik.

Sepinya pesanan membuat generasi muda setempat kehilangan semangat meneruskan pembuatan perahu. Salah satunya Yusuf (32) yang memilih menjadi perajin mebel lemari, pintu, atau kusen. Untuk lemari harganya rata-rata Rp 1 juta-Rp 1,5 juta tergantung ukuran, sedangkan kusen Rp 500 ribu per pintu. Keuntungannya Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per bulan.

Semakin Jarang Pembuat perahu juga semakin jarang ditemui di Tegalwaru. Oman (45), pembuat perahu kayu yang tersisa di Kampung Cilangohar, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, mengatakan, sekitar tahun 1980 hingga awal 1990, masih ada empat pembuat perahu di Kampung Cilangohar. Namun, sekarang yang bertahan hanya dirinya.

“Dulu, tiap bulan ada pesanan perahu setidaknya empat unit. Sekarang, saya paling banter membuat satu perahu per bulan,” tutur Oman yang menekuni pembuatan perahu khususnya jenis compreng sejak 1983.

Pesanan perahu marak ketika mulai banyak usaha keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur. Perahu sangat dibutuhkan karena menjadi satu-satunya moda transportasi yang praktis bagi warga di areal waduk. Transportasi darat memakan waktu lebih lama dengan kondisi jalan yang umumnya buruk.

Saat ini, perahu bikinan Oman untuk muatan 4 ton dihargai Rp 12 juta, sedangkan harga perahu bermuatan maksimal 6 ton bisa sampai 15 juta. Kebanyakan konsumen memesan perahu kecil dengan panjang lima meter seharga Rp 5 juta.

Perahu buatan Omen berbahan baku kayu jati yang didapatkannya dari gudang penjualan di Purwakarta. Untuk membuat perahu sepanjang lima meter dibutuhkan waktu 20 hari. Ia dibantu dua rekannya.

Tak Menguntungkan

Oman mengakui, usaha perahu semakin tak menguntungkan. Untuk membuat perahu berukuran 12 meter x 1,8 meter seharga Rp 12 juta, dibutuhkan tiga kubik kayu jati. Adapun harga satu kubik kayu jati saat ini Rp 3 juta. Jika ditambah ongkos angkut hingga ke desanya, cat dan bahan-bahan lain, modal pembuatan sekitar Rp 10 juta. “Saya juga mesti membayar ongkos pekerja Rp  1 juta. Jadi, untung bersih saya hanya Rp 1 juta,” tuturnya.

Untuk menambah penghasilan, ia menerima perbaikan perahu dengan ongkos Rp 500.000 per unit. Dalam sebulan, Oman bisa menerima jasa perbaikan sampai 10 perahu. Saat sepi, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhannya. ”Bekerja apa saja, asal bisa mendapat uang paling enggak Rp 25.000 per hari, saya tinggalkan pekerjaan membuat perahu,” ujarnya.

Jebolan sekolah teknik kayu di Purwakarta ini menuturkan, regenerasi pembuat perahu di Waduk Jatiluhur tidaklah mudah, sebab dinilai tidak lagi menguntungkan. “Anak saya pun tidak mau jadi pembuat perahu. Ia lebih memilih kerja di kota,” kata ayah dua anak ini.

Seiring makin berkurangnya pembuat perahu, sejarah panjang Citarum sebagai jalur transportasi air yang ramai kian mendekati masa akhir. Budaya sungai pun tanpa disadari kian terkikis karena perbuatan manusia yang banal dan abai pada lingkungan. (Cornelius Helmy, Rini Kustiasih dan Gregorius M Finesso)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau