Uniknya Ragam Aksesori dari Tenun Ikat NTT

Kompas.com - 04/05/2011, 16:37 WIB

KOMPAS.com - Mengenalkan dan melestarikan tenun ikat bernilai tradisi bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya, mengaplikasikan kain tenun ikat ragam motif dan warna dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur sebagai aksesori.

Utamanya, kain tenun ikat NTT berupa kain selimut, sarung, atau selendang. Namun kain tenun ikat NTT dengan bahan lebih tipis juga bisa digunakan untuk membuat pakaian siap pakai seperti jas atau blazer. Kain tenun ikat NTT juga diolah menjadi ragam model dan fungsi aksesori. Sebut saja dompet untuk perempuan dan laki-laki, tas wanita, tempat pensil, dompet koin, wadah kacamata, wadah majalah, hingga detail pita yang mempercantik bandana untuk anak-anak.

Berbagai toko suvenir dan kain tenun di Kupang, NTT, memamerkan ragam model aplikasi tenun ikat ini. Selain mempromosikan kain tenun khas dari daerah Timor ini, aplikasi tenun ikat pada aksesori juga punya nilai fungsi.

Lidia, pemilik toko suvenir di selatan kota Kupang, mengatakan terdapat ragam motif kain tenun ikat yang populer di NTT. Toko yang berjarak sekitar 20 menit dari bandar udara El Tari Kupang, ini menyebutkan sejumlah motif yang mengacu pada nama daerah. Seperti motif
Sumba, Manggarai, Biboki, Rote, Sabu, Alor, Timur Amarasi, Ende, Maumere, Kupang, Lembata, dan Larantuka.

"Kebanyakan warna hitam, dan yang membedakan satu kain tenun ikat dengan lainnya adalah motifnya. Motif Sumba misalnya, cenderung memiliki gambar binatang. Motif Sumba biasanya paling mahal dibandingkan motif lainnya," jelas Lidia kepada Kompas Female di Kupang, beberapa waktu lalu.

Motif tenun ikat di NTT, kata Lidia, juga menentukan tingkat sosial. Pada daerah tertentu, motif tenun ikat tidak boleh dipasarkan karena motif tersebut milik para raja. Nah, motif yang eksklusif ini tidak boleh dijahit menjadi baju atau aksesori lainnya. Sementara motif tetun ikat milik rakyat bebas diperjualbelikan, dan dijahit untuk pakaian serta aksesori lainnya.

Bahan dasar pembuatan kain tenun ikat NTT juga beragam. Perajin kain tenun yang tersebar di Kupang dan di berbagai daerah di NTT, menggunakan dua pilihan bahan: benang alami dari tanaman dan benang pabrikan. Benang alami, misalnya dari akar mengkudu yang digunakan perajin di Lembata, biasanya menggunakan pewarna alami dan cenderung gelap. Sedangkan benang pabrikan umumnya lebih terang. Tekstur kain tenun dari benang alam juga biasanya lebih tebal dibandingkan benang pabrikan. Perbedaan cara pembuatan ini memengaruhi harga. Biasanya, kain tenun ikat dari bahan alam harganya lebih tinggi.

Untuk selendang dari tenun ikat benang alam biasanya dibanderol Rp 150.000 - Rp 200.000, tergantung tingkat kerumitan dan asal daerah. Sementara tenun ikat dari benang toko atau pabrikan, biasanya lebih murah, mulai Rp 25.000. "Motif binatang biasanya lebih mahal dari motif bunga pada tenun ikat," lanjut Lidia, menambahkan tenun ikat yang diaplikasikan dalam bentuk pakaian harga terendahnya dihargai Rp 215.000.

Kain tenun ikat, berupa selendang atau selimut, biasanya menjadi incaran wisatawan untuk membawa oleh-oleh dari NTT. Namun aksesori lain seperti taplak meja, hiasan dinding, dompet, atau benda fungsional lainnya juga menjadi buah tangan tak kalah populer dari kawasan timur Indonesia. Ragam model aksesori dari tenun ikat NTT ini memanjakan mata, dan menggoda karena keunikan dan kekayaan motif yang terlihat semakin apik dalam aplikasi aksesori.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau