Sekolah Perfilman Sudah Mendesak

Kompas.com - 04/05/2011, 16:59 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Sineas Nia Dinata menyatakan, kebutuhan terhadap sekolah perfilman untuk para calon pekerja film di Indonesia sangat mendesak, guna menampung bakat dan mengembangkan industri kreatif di Indonesia.

"Korea yang penduduknya hanya 40 juta orang sudah memiliki empat sekolah film, sedangkan kita yang penduduknya 220 juta orang hanya memiliki satu sekolah film yang dapat menghasilkan tenaga kerja kreatif di bidang perfilman," katanya di Bandar Lampung, Rabu (4/5/2011).

Dia menjelaskan, keberadaan institusi pendidikan formal sangat penting untuk mengembangkan dan memajukan perfilman Indonesia.

"Banyak bakat dari berbagai tempat di Indonesia yang tidak tertampung dan meluap karena ketiadaan itu, meskipun banyak juga pekerja film saat ini yang bukan lulusan sekolah perfilman," katanya.

Atas dasar pemikiran tersebut, dia menyatakan, pemerintah harus mendorong terbentuknya sekolah perfilman di daerah serta tidak hanya berpusat di Jakarta.

"Tidak perlu harus membangun dari nol, pemerintah cukup mendorong universitas negeri yang ada di daerah untuk membuat fakultas perfilman sehingga biaya yang dikeluarkan tidak begitu mahal," katanya.

Menurut Nia, keberadaan fakultas perfilman dapat mendorong lahirnya sineas dan bakat baru di daerah, dengan latar budaya yang semakin beragam, dan dapat memberi warna pada dunia perfilman nasional.

Hal itu dia ungkapkan dalam seminar sehari "Learn from the Experts, Cinematography Clinic with Nia Dinata" di Universitas Lampung.

Acara yang diikuti oleh 150-an mahasiswa itu juga memutarkan salah satu film dari omnibus dokumenter terbaru yang diproduseri Nia Dinata berjudul Working Girl.

Sayangnya, dari sekian banyak peserta yang mengikuti acara bersifat semi-workshop itu, hanya sebagian kecil yang berasal dari komunitas film.

Sebagian besar peserta adalah mahasiswa yang lebih berorientasi mengejar sertifikat.

"Sayang sekali hanya sedikit peserta yang berminat dengan dunia perfilman yang diundang, padahal ini bisa menjadi semacam ’triger’ untuk mereka," kata salah seorang  peserta, Fachrurozy.

Dia menduga, adanya pembatasan peserta yang sesuai dengan target market sponsor menjadi penyebab acara tersebut jadi salah sasaran, mengingat acara tersebut disponsori oleh salah satu produsen rokok.

"Harusnya lebih banyak penggiat film independen Lampung yang dilibatkan. Namun, karena mereka berasal dari SMA, yang bukan target market sponsor, tidak diizinkan ikut serta dan tidak mendapat undangan," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau