Daerah wisata

2015 Bali Krisis Air Bersih

Kompas.com - 04/05/2011, 19:32 WIB

DENPASAR, KOMPAS.Com -  Pulau Bali di bagian selatan, khususnya Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, diperkirakan akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2015. Krisis air disebabkan pertumbuhan penduduk dan pembangunan gedung yang pesat, sehingga persediaan air yang ada tidak mencukupi lagi.

Demikian disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, Tjokorda Ngurah Pemayun, Rabu (4/5) di Denpasar. "Perkiraan ini muncul dari hasil penelitian tim dari Jepang sejak tahun 2009," katanya.

Menurut Pemayun, dampak krisis air akan lebih besar terasa di Kabupaten Badung yang merupakan sentra pariwsata. Pembangunan fasilitas pendukung pariwisata seperti hotel dan restoran tumbuh pesat terutama di kawasan Kuta, Jimbaran, dan Nusa Dua.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Badung, jumlah penduduk di Badung sebanyak 90.910 keluarga pada tahun 2007, dan meningkat menjadi 95.553 keluarga pada 2009. Kepadatan penduduk terbesar di Kecamatan Kuta, yaitu 2.200 orang per kilometer (km) persegi pada tahun 2007 menjadi 2.245 orang per km persegi tahun 2009.

Sebagai perbandingan, rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara, hanya 479 jiwa per km persegi pada 2009.

Jumlah hotel, baik hotel berbintang, hotel melati, maupun pondok wisata juga meningkat. Pada 2007 tercatat sebanyak 701 penginapan dengan 25.939 kamar, dan meningkat pada 2009 menjadi 950 penginapan dengan 28.796 kamar. Jumlah itu belum termasuk jumlah restoran dan bar, yaitu 964 unit pada tahun 2007 dan meningkat menjadi 1.084 unit pada tahun 2009.

Jumlah pemakaian air yang dipasok perusahaan air minum pada tahun 2009 mencapai 32.592.544 meter kubik. Sementara pihak yang memanfaatkan air bawah tanah sebanyak 485 wajib pajak.

Di tempat terpisah, Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Wayan Gendo Suardana, mengatakan, krisis air sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 1995 ketika terjadi defisit air sebanyak 1,5 miliar meter kubik per tahun. Defisit air terus meningkat menjadi 7,5 miliar meter kubik per tahun dan pada 2015 diperkirakan meningkat menjadi 27,6 miliar meter kubik per tahun.

"Air banyak disedot bangunan-bangunan sektor pariwisata. Pemerintah tidak pernah belajar dari hasil penelitian yang ada. Seharusnya mereka mengerem laju pembangunan yang sangat cepat ini," kata Gendo.

Untuk mengantisipasi kekurangan air, ungkap Pemayun, Pemerintah Provinsi Bali akan bekerja sama dengan investor dari Korea untuk pembangunan jaringan air baru. Rencananya sumber air akan diambil dari Kabupaten Klungkung dan bisa dimanfaatkan penduduk di Kabupaten Gianyar, Kota Denpasar, dan Kabupaten Badung.

"Akhir Mei 2011 studi kelayakan diperkirakan akan selesai dan tahun 2012 jaringan air baru ini sudah bisa digunakan," kata Pemayun. Ia memperkirakan jaringan air baru itu dapat dimanfaatkan hingga 20 tahun.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau