PALANGKARAYA, KOMPAS.Com - Prevalensi jumlah penyandang autis di Indonesia naik delapan kali lipat dalam 10 tahun ini. Jumlah itu juga lebih tinggi daripada angka rata-rata autis di dunia. Kondisi itu disebabkan tingkat depresi orangtua, khususnya ibu hamil yang semakin tinggi.
Goodwill Ambassador Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Christinne Hakim, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (4/5), mengatakan, prevalensi penyandang autis di Indonesia saat ini sebanyak delapan orang di antara 1.000 penduduk.
Adapun angka di dunia rata-rata sebesar enam orang di antara 1.000 penduduk. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi autis di Indonesia naik pesat dibandingkan dengan 10 tahun lalu yang hanya satu di antara 1.000 penduduk. Penyandang autis saat ini masih dihadapkan dengan persoalan penilaian masyarakat yang umumnya negatif. Sebagian anak autis misalnya, memiliki kendala seperti terlambat berb icara atau sulit berkomunikasi.
Struktur otak penyandang autis berbeda dengan anak normal, sehingga mereka terlambat bicara atau emosinya tak terkontrol. Karena itu, tak heran jika penyandang auti s kerap mengalami diskriminasi.
"Mereka ditolak pihak sekolah. Bahkan orangtua murid ikut menolak karena takut ketularan. Anak autis diejek dan dihina karena dianggap aneh," kata Christninen Hakim.
Padahal perbuatan itu, menurut Christinne Hakim keliru dan sangat tidak manusiawi . Tidak ada alasan untuk menolak anak autis, karena pendidikan merupakan hak seluruh lapisan masyarakat. Pembauran penyandang autis dengan anak normal merupakan langkah positif dan amat baik, agar mereka bisa memahami kondisi masing-masing.
Christine menuturkan, berdasarkan riset yang dilakukannya selama empat bulan sejak awal tahun 2011 , anggapan negatif terhadap anak autis itu pada kenyataannya amat keliru. Anak autis memiliki kelemahan namun juga punya kelebihan dalam bidang lainnya.
Albert Einstein itu, misalnya, autis. Lalu ada anak di Indonesia yang bisa melukis dan berpameran tunggal di banyak tempat. "Lukisannya sudah ditawar 50.000 dollar AS," katanya.
Seorang anak autis lain yang tunanetra mampu memainkan piano dengan sangat mahir. Jika kelebihan penyandang autis bisa ditemukan, manfaatnya akan sangat besar bagi masyarakat.
"Sekarang, kalau autis dibicarakan pasti mengarah pada keterbelakangan atau gila. Karena itu, sikap dan persepsi kurang baik terhadap anak autis diharapkan bisa diubah," ujarnya.
Persoalan autis harus ditangani dengan terapi, kasih sayang, dan perhatian orangtua. Langkah itu akan mempercepat proses mereka menjadi mandiri. Menurut Christine, pengetahuan pemerintah terhadap autis juga masih terbatas sehingga langkah yang dilakukan belum terlalu besar.
Ricky Avenzora , sutradara film Love Me As I Am, yang berkisah tentang anak-anak autis menjelaskan, ia telah melakukan riset untuk film tersebut. " Saya mengetahui bahwa depresi yang dialami ibu hamil mempengaruhi kandungan selama delapan minggu pertama pembentukan otak bayi," katanya.
Pembentukan itu terganggu, sehingga menimbulkan kemungkinan bayi terkena autis. Peningkatan prevalensi autis tak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia. "Kondisi itu terjadi di kota-kota besar hingga pelosok desa," kata Ricky.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang