Wisata vietnam

Ngos-ngosan Memasuki Terowongan Vietkong

Kompas.com - 05/05/2011, 09:35 WIB

BUKAN ke China tapi Ho Chi Minh, Vietnam. Pemberitahuan HRD akhirnya mematahkan gosip yang beredar sejak Desember. "Wah, lihat apa ya di sana?" kata mereka yang pada tahun-tahun sebelumnya sudah ke Hongkong, Thailand atau Malaysia. "Ngumpulin ranjau sisa perang sama selongsong peluru Rambo," jawab yang lain bercanda. Tour tahunan perusahaan yang saya ikuti pertama kali ini dibagi dalam 3 group,  staf dari berbagai departemen di perusahaan kami. Staf laki-laki boleh membawa istri, tapi anak tidak.

Saya masuk group kedua yang berangkat tanggal 7 April. Maka Kamis pagi pukul 4 itu saya kalang-kabut memberesi rambut yang masih basah karena bus jemputan yang saya kira datang setengah jam lagi sudah berdiri di depan rumah. Kami berangkat ke Bandara Polonia. Berhenti untuk sholat subuh di Perbaungan 1,5 jam setelahnya. Rute hari ini adalah Medan-Kuala Lumpur, Kuala Lumpur-Ho Chi Minh dengan pesawat Malaysia Airlines.

Setelah sempat ngopi dan sarapan kami boarding juga pukul 9.00. Saya menikmati penerbangan ke Malaysia ini, menikmati pemandangan indah pramugara-pramugara tampan yang wara-wiri ha-ha-ha… Sampai di Sepang Kuala Lumpur International Airport, transit lumayan lama, kami bisa Dzuhur dulu di sana.

Lumayan ramai siang itu, banyak rombongan umroh dari Medan-Indonesia. Bersama bu Ria dan bu Munthe saya berkeliling area bandara sebentar. Tidak beli apa-apa meski ada coklat aneka rupa. Ibu-ibu itu sempat ngeceng di gerai tas-tas mahal. Oh ya, saya agak ill fill tadi, waktu di pesawat sempat mendengar sepotong instrumentalia lagu Minang diputar di kabin, medley dengan lagu-lagu melayu, ah sudahlah…

Kami keluar Bandara Tan Son Nhat sekitar pukul setengah lima sore, 1 jam 55 menit dari KL. Wow, ramai sekaliii…. bule di mana-mana. Dollar yang kami bawa berganti Vietnam Dong di money changer di samping pintu kedatangan, 1 USD = 20.900 VND.  Sambil menunggu bus yang akan mengantar ke hotel Blue Diamond tempat menginap 3 hari itu suasana dihebohkan dengan kegiatan foto-foto. Semua yang berbau Vietnam jadi korban termasuk gadis pencatat antrean taksi yang berbaju tradisional, mendadak jadi model.

 

13040499341490082579

banyak sepeda motor kayak kita, tapi mereka tertib

 

Hotel Blue Diamond lumayan bagus. Meski terjepit diantara gedung lain tapi cukup komplit dan nyaman untuk ukuran hotel berbintang 3.  Semakin menarik lagi karena ada di pusat keramaian, dekat pasar, dikelilingi toko-toko. Dan tentu kami langsung mencari objek yang tepat untuk shopping! Ha-ha-ha...

Setelah istirahat sebentar, sholat ashar (waktu Vietnam sama dengan Indonesia) kami ke halal restoran untuk makan malam. Masakan melayu, enak tapi sayangnya porsinya sedikit untuk ukuran orang Indonesia, tidak ada “tambuah ciek”, uniknya lagi makanannya datang satu-satu. Habiskan nasi dan ikan lalu baru sayur datang ha-ha-ha….yah, beda bangsa beda cara lah…

13040500021294510455

Halal Restaurant

 

Menunggu bos-bos yang masih bercengkrama kami bergerombol di depan restoran. Tak lama  pedagang souvenir berdatangan. Ada kotak perhiasan, kipas, topi, t-shirt, ayunan  gantung. Melihat  kami yang bersemangat makin banyak saja pedagang yang datang. Tapi begitulah makin malam harga makin turun, kotak perhiasan yang tadinya ditawarkan Rp 100.000 per buah menjadi Rp 100.000 per 4 buah. Ternyata para pedagang ini juga menerima rupiah. Bu Munthe ngedumel juga karena terlanjur beli satu Rp 50.000, ha-ha-ha…
13040500641348092065

Pagi pertama di depan Blue Diamond

 

Pagi esok kami diajak ke terowongan pertahanan Vietkong pada masa perang  melawan Amerika, Cu Chi Tunnel.  Terowongan bersejarah ini berada dipinggir kota. Area yang berupa hutan dan telah disulap agar lebih menarik dikunjungi ini menampilkan satu sisi perang  Vietnam, please check   http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Vietnam. Terlihat meriam, rudal yang pasti milik Amerika dulunya.  Guide menjelaskan berbagai modifikasi senjata dan jebakan yang dibuat bangsanya pada masa itu.

Saya lampirkan beberapa foto di sana, banyak rombongan bule, berkeluarga kayaknya, nenek-kakek cucu….

 

130405062533495948

Mencoba salah satu lubang persembunyian

   

 

13040501891084519588

Penasaran, akhirnya masuk terowongan juga

 

Hutan persembunyian jadi objek wisata

1304050314691895427

Disuguhi makanan Vietkong, ada teh aroma kenanga

 

Acara di Cu Chi tunnel ini melelahkan juga. Berkeliling hutan, saya yang  single dan muda ini mendadak lebih lincah mencobai terowongan gelap yang ditempuh dengan jalan jongkok. Keringetan plus ngos-ngosan, tapi puass…

Nanti saya lanjutkan…

 

Sumber: http://www.kompasiana.com/elvini

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau