JEMBER, KOMPAS.com - Setelah menaikkan harga pembelian dari Rp 5.060 per kilogram menjadi Rp 5.400 per kilogram, Perum Bulog berharap kepada mitra usaha agar bersedia memasok beras ke gudang dolog sebanyak-banyaknya. Mitra usaha diminta tidak hanya memasok beras ketika harga beli beras tinggi. Sebaliknya, ketika harga pasar tingngi justru enggan memasok beras ke gudang. Hal ini diungkapkan Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimuso kepada wartawan usai dialog dengan mitra usaha Perum Bulog Sub Divre Jember, di Gudang Perum Bulog kelurahan mangle Kecamatan kaliwates, Jember, Kamis (5/5).
"Bulog membuat kebijakan dengan menaikan harga pembelian beras dan gabah kepada petani dan mitra usaha, karena kenyataan di lapangan bahwa harga yang terbentuk selama dua bulan terakhir cukup stabil dan pada posisi Rp 5.500 per-kg. Kalau harga di pasar pada posisis itu, maka harga produsen sekitar Rp 5.400 per-kg," kata Sutarto Alimuso.
Harga tinggi yang terbentuk oleh pasar disebabkan beberapa daerah panennya tidak serempak. Panen raya di Jawa Timur yang mendahului daerah lainnya membuat harga beli yang diterima petani atau produsen lebih tinggi dibanding daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Persediaan beras di Perum Bulog secara nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai enam bulan mendatang. Namun demikian, pada Juli nanti pemerintah akan menghitung mengenai persediaan yang ada, apakah masih perlu impor atau sudah cukup. Ini tergantung pengadaan beras oleh Perum Bulog.
Ia menambahkan, harga beras di Indonesia secara keseluruhan tergolong tinggi sekitar 25-30 persen dibanding dengan harga beras dunia. Oleh sebab itu, Sutarto membantah kalau harga beras impor lebih mahal dibanding harga beras dalam negeri. "Sampai kemarin harga beras impor jauh di bawah harga beras Indonesia," katanya.
Oleh sebab itu, Perum Bulog membeli dengan harga tambahan yakni Rp 5.400 per kilogram sehingga harapannya perolehan pengadaan menjadi lebih banyak. Pada bulan Ramadhan, saat terjadi gejolak harga, Perum Bulog bisa melakukan operasi pasar atau menyalurkan beras untuk keluarga miskin tambahan.
Hingga saat ini, sesuai kontrak, capaian Perum Bulog masih sekitar 850.000 ton, sedangkan target sampai dengan akhir ini sekitar 1,3 juta 1,5 juta ton. Untuk mencapai target tersebut, kata Sutarto Alimuso, tergantung situasi lapangan.
Seretnya pemasukan beras Perum Bulog, mitra pemasok beras ke Perum Bulog A Long atau Hariyanto mengatakan, karena harga pasar lebih tinggi disbanding harga pembelian Perum Bulog. Ini disebabkan produksi padi merosot tajam sehingga pengusaha penggilingan padi dan beras berburu padi ke patani dengan harga lebih tinggi dari pembelian Bulog.
Kepala Dinas Pertanian Jember Hari Widjajadi mengakui, merosotnya harga karena penyerbukan kurang sempurna akibat anomali dan hama penyakit banyak menyerang tanaman padi petani. "Hal ini juga diakui pengusaha penggilingan padi di Desa Gambiran Kecamatan Kalisat H Kamil Gunawan, setiap hektar lahan yang ditanami padi menghasilkan 6 7,5 ton. Sekarang hanya berproduksi 4 ton," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang