Bbm langka

Kelangkaan BBM Makin Mengancam Warga

Kompas.com - 06/05/2011, 20:24 WIB

PADANG, KOMPAS.com - Kelangkaan BBM di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang sudah memasuki bulan ketiga belum juga teratasi. Sejumlah aktivis Yayasan Citra Mandiri Mentawai di Kota Padang, Jumat (6/5/2011) mengatakan akibat hal tersebut kehidupan warga mulai terancam.

Aktivitas warga terancam dengan kelangkaan BBM itu karena sangat bergantung pada transportasi dengan kapal bermesin. Terutama warga yang tinggal di hulu sungai sangat kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan dan pemerintahan di bagian hilir.

Koordinator Divisi Organisasi dan Pengembangan Ekonomi Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Yosep Sarogdok mengatakan, program pemulihan pasca tsunami juga terganggu karena hal itu.

Yosep menambahkan, pembangunan kembali permukiman di sejumlah desa terdampak tsunami juga terpegaruh oleh kelangkaan BBM.

Ia mengatakan, saat ini dalam satu bulan praktis hanya sekitar satu minggu yang bisa dipergunakan untuk bahan bakar mesin perahu dan mesin pemotong kayu.

"Bahan bakar biasanya habis setelah satu minggu, dan setelah kita ingin beli kembali sudah tidak ada lagi. Baru sekitar tiga minggu kemudian bisa dibeli lagi," kata Yosep.

Menurut Yosep, hal itu akan semakin buruk jika badai muncul di tengah-tengah masa pekerjaan. Bahan bakar yang dibutuhkan akan semakin banyak dengan resiko masa kerja yang semakin panjang.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bastian Sirirui saat berada di Kota Padang sehari sebelumnya mengatakan pemilukada di Kabupaten Kepulauan Mentawai terancam batal. Pemilukada yang akan digelar pada 10 Oktober mendatang itu terancam karena makin langkanya ketersediaan bahan bakar.

Ia mengatakan, satu liter bensin kini bisa mencapai Rp 15.000. Namun menurut Bastian, itupun relatif sulit diperoleh karena biasanya BBM akan langsung ludes dalam masa satu hari setelah sampai dari Kota Padang.

Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terdiri atas Pula u Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan terbagi dalam 10 wilayah kecamatan. Transportasi dari dan ke sejumlah titik antarkecamatan mengandalkan perahu bermesin yang sangat tergantung ketersediaan bahan bakar.

Pelaksana tugas Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai Faisal Syarif saat dihubungi pada hari yang sama mengatakan sudah dilakukan rapat tingkat Muspida untuk mengatasi kelangkaan BBM.

Namun hingga saat ini belum diketahui berapa banyak total BBM, yang dibutuhkan di wilayah Kepulauan Mentawai dalam masa satu bulan.

Menurut Faisal, agak sulit melakukan penghitungan total kebutuhan BBM itu secara rinci karena terkait dengan berbagai faktor seperti cuaca yang tidak menentu. "Namun akan kita ketahui hasil perhitungan kebutuhan BBM itu dalam waktu dekat," katanya.

Sebelumnya Sales Representative Retail Rayon Pertamina Sumbar I Ketut Permadi menyatakan pihaknya menambah jumlah pasokan BBM ke Kabupaten Kepulauan Mentawai sejak Selasa (26/4/2011) lalu.

Masing-masing ditambah 50 kiloliter premium dan 50 kiloliter solar dari jatah sebelumnya yang hanya 200 kiloliter premium dan 112 kiloliter solar untuk kebutuhan per bulannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau