JAKARTA, KOMPAS.com - Tawuran antarwarga di Johar Baru, Jakarta Pusat, tak kunjung menemui titik akhir. Terakhir, tawuran terjadi pada Rabu, (4/5/2011) malam.
Menanggapi hal itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Effendi Anas menilai, penyelesaian konflik horizontal yang berkepanjangan itu hanya bisa diselesaikan dengan kemauan warga sendiri. "Hanya goodwill, kemauan baik yang kuat dari warga sendiri yang bisa mengakhiri pertikaian di antara mereka," kata Anas, Jumat (6/5/2011) di Jakarta.
Ia menjelaskan, berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah DKI dan aparat keamanan, termasuk dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. "Sudah dilakukan deklarasi perdamaian, doa bersama, hingga pelatihan spiritual, SQ (spiritual quotient), tapi nyatanya tawuran masih terus terjadi," kata Anas.
Persoalan ini sudah berlangsung lama. Peliknya lagi, pemicunya bisa disebabkan oleh hal-hal sepele karena akar masalahnya sudah berbaur dalam beberapa motif. Anas mengidentifikasi sekurangnya tiga motif yang melatari pecahnya kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini, yakni persaingan bisnis, budaya, dan persoalan narkoba.
"Namun yang terpenting adalah masalah ekonomi, persaingan bisnis, persaingan antarpemilik tempat kos di gang-gang dan tingginya tingkat pengangguran," papar Anas.
Warga yang menganggur, kata Anas, selalu membutuhkan aktivitas. Tanpa kegiatan yang jelas, mereka akan terdorong untuk melakukan aktivitas yang bisa saja bersifat merusak.
Untuk mengantisipasi munculnya kerusuhan baru, Anas mengemukakan, pemerintah sudah memasang dua perangkat kamera pemantau (CCTV) di lokasi rawan di sekitar Johar Baru. Dalam waktu dekat akan ditambah 3 unit CCTV lagi.
Hal penting lainnya adalah pentingnya membuka lapangan kerja bagi warga Johar baru dan kemungkinan relokasi sebagian warga. "Relokasi sedikit sulit, karena mereka akan berkeberatan jika terlalu jauh dari akses ke pekerjaan yang umumnya di sekitar sini (Jakarta Pusat) juga," tambahnya.
Kemungkinan terbaik, menurut Anas, adalah menyediakan rumuh susun di dekat lokasi tersebut.
Baca juga: Stop Nyampah! Bisa?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang