Bentrok antarwarga

Akhiri Tawuran, Tergantung Niat Warga

Kompas.com - 06/05/2011, 21:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tawuran antarwarga di Johar Baru, Jakarta Pusat, tak kunjung menemui titik akhir. Terakhir, tawuran terjadi pada Rabu, (4/5/2011) malam.

Menanggapi hal itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Effendi Anas menilai, penyelesaian konflik horizontal yang berkepanjangan itu hanya bisa diselesaikan dengan kemauan warga sendiri. "Hanya goodwill, kemauan baik yang kuat dari warga sendiri yang bisa mengakhiri pertikaian di antara mereka," kata Anas, Jumat (6/5/2011) di Jakarta.

Ia menjelaskan, berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah DKI dan aparat keamanan, termasuk dengan melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. "Sudah dilakukan deklarasi perdamaian, doa bersama, hingga pelatihan spiritual, SQ (spiritual quotient), tapi nyatanya tawuran masih terus terjadi," kata Anas.

Persoalan ini sudah berlangsung lama. Peliknya lagi, pemicunya bisa disebabkan oleh hal-hal sepele karena akar masalahnya sudah berbaur dalam beberapa motif. Anas mengidentifikasi sekurangnya tiga motif yang melatari pecahnya kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini, yakni persaingan bisnis, budaya, dan persoalan narkoba.

"Namun yang terpenting adalah masalah ekonomi, persaingan bisnis, persaingan antarpemilik tempat kos di gang-gang dan tingginya tingkat pengangguran," papar Anas.

Warga yang menganggur, kata Anas, selalu membutuhkan aktivitas. Tanpa kegiatan yang jelas, mereka akan terdorong untuk melakukan aktivitas yang bisa saja bersifat merusak.

Untuk mengantisipasi munculnya kerusuhan baru, Anas mengemukakan, pemerintah sudah memasang dua perangkat kamera pemantau (CCTV) di lokasi rawan di sekitar Johar Baru. Dalam waktu dekat akan ditambah 3 unit CCTV lagi.

Hal penting lainnya adalah pentingnya membuka lapangan kerja bagi warga Johar baru dan kemungkinan relokasi sebagian warga. "Relokasi sedikit sulit, karena mereka akan berkeberatan jika terlalu jauh dari akses ke pekerjaan yang umumnya di sekitar sini (Jakarta Pusat) juga," tambahnya.

Kemungkinan terbaik, menurut Anas, adalah menyediakan rumuh susun di dekat lokasi tersebut.

Baca juga: Stop Nyampah! Bisa?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau