Operasi osama

Suku Indian Marah dengan "Geronimo"

Kompas.com - 07/05/2011, 04:34 WIB

Washington DC, Kamis - Pemakaian kata sandi ”Geronimo” untuk menjuluki pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dalam operasi penyerbuan pada Senin lalu dianggap menghina warga keturunan Indian, suku asli Amerika. Mereka menuntut Presiden AS Barack Obama meminta maaf secara resmi atas penggunaan sandi itu.

Susan Shown Harjo, presiden organisasi pembela hak-hak warga Indian, Morning Star Institute, mengatakan, pemakaian nama pejuang legendaris suku Apache untuk menjuluki teroris musuh nomor satu Amerika Serikat adalah tindakan yang sangat menghina dan melukai perasaan warga suku-suku asli Amerika.

”Mengejutkan, benar-benar sangat mengejutkan bahwa hal seperti ini bisa terjadi,” tutur Harjo di hadapan Kongres AS di Washington DC, Kamis (5/5).

Albert Hale, seorang Indian dari suku Navajo, yang menjadi senator di Senat Negara Bagian Arizona, menuntut Presiden Obama meminta maaf secara resmi dalam siaran langsung televisi nasional. Menurut Hale, pemilihan nama itu ”menjijikkan”.

Kontroversi ini bermula saat media AS memberitakan detik-detik penyerbuan pasukan Navy SEALs di rumah persembunyian Osama di Abbottabad, Pakistan, Senin dini hari. Sesaat setelah tim penyerbu menembak mati Osama, komandan tim tersebut melaporkan melalui radio dengan mengatakan, ”Geronimo EKIA (enemy killed in action—musuh telah tewas dalam pertempuran).”

Geronimo adalah nama seorang ketua suku Apache, salah satu suku Indian penduduk asli wilayah yang kini menjadi Negara Bagian New Mexico, AS. Ia dianggap sebagai pahlawan bagi suku Indian karena melawan tentara AS dan Meksiko yang ingin menguasai tanah Apache.

Geronimo juga dikenal memiliki kemampuan berjalan tanpa meninggalkan jejak di tanah sehingga berhasil menghindari kejaran tentara AS dan Meksiko selama bertahun-tahun. Kantor berita Associated Press menganalogikan ini dengan kemampuan Osama menghindari kejaran pasukan AS selama hampir 10 tahun, yang mungkin menjadi alasan pemakaian nama sandi tersebut.

Stereotip

Bagi sebagian warga keturunan Indian, pemakaian nama sandi Geronimo itu menjadi bukti sentimen rasialis dari warga AS pada umumnya. Levi Pesata, Presiden Jicarilla Apache Nation, mengatakan, warga keturunan Indian masih distereotipkan dengan sifat-sifat ”buas”, ”haus darah”, dan ”tak beradab”.

Jim Warne, aktor keturunan suku Lakota Oglala, mengaku turut merayakan kabar kematian Osama, seperti warga AS lainnya. Namun, ia kemudian mendengar nama sandi Geronimo itu. ”Ternyata kami masih dianggap sebagai penjahatnya,” ungkap Warne.

Dalam budaya pop Amerika, terutama di film-film koboi klasik Hollywood, bangsa Indian sering digambarkan sebagai pihak musuh yang biadab dan sadis. Sementara jagoannya selalu seorang kulit putih.

Tak kurang dari Senator Daniel Akaka, yang mengetuai Panel Urusan Indian di Senat AS, menyayangkan penggunaan nama sandi tersebut. ”Kemenangan ini seharusnya mempersatukan bangsa Amerika. Sungguh sayang nama sandi itu yang dipilih,” ujar Akaka.

Gedung Putih mengutip pernyataan Pentagon bahwa penggunaan nama ini sama sekali tak ditujukan untuk menghina kaum Indian. Pentagon sendiri tidak menjelaskan lebih lanjut soal pemakaian nama sandi ini, kecuali hanya mengungkapkan, nama sandi dipilih secara acak, yang memungkinkan pihak-pihak yang terkait dengan suatu misi bisa berkomunikasi tanpa diketahui pihak musuh.(AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau