Kriminalitas

Rindu Ortu, 3 Tahanan Diringkus Lagi

Kompas.com - 08/05/2011, 03:26 WIB

BULUKUMBA, KOMPAS.com — Empat remaja tersangka pencuri sepeda motor berhasil kabur dari sel Polsek Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/5/2011) sekitar pukul 04.00 WIT.

Para pelajar SLTA yang bernama samaran Imang, Rajawali, Wawan, dan Dahlan itu kabur dengan cara membobol plafon ruang tahanan yang mereka huni selama sepekan. Dari catatan aparat kepolisian, Dahlan memang lihai membobol rumah.

Namun, keberhasilan mereka tidak berlangsung lama. Hanya beberapa jam, tiga dari empat remaja itu dapat diringkus lagi. Bagaimana polisi dengan mudah menangkapnya?

Para tersangka itu masih muda sehingga rupanya belum cukup berpengalaman sebagai penjahat. Maka, setelah berhasil kabur, tujuan mereka untuk kabur mudah diterka, yaitu kemungkinan besar ke rumah keluarganya. Ternyata benar, karena rindu orangtuanya, mereka tertangkap kembali di area perkebunan di Dusun Bonto Bangun, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.

Saat itu mereka bermaksud pulang ke rumah orangtuanya seusai bersembunyi di Pasar Rilau Ale, Sabtu (7/5/2011) siang. Namun, baru tiga dari empat tersangka yang dapat diringkus.

Kepada Kompas.com, Imang mengaku terpaksa kabur setelah Dahlan, tahanan baru dalam kasus yang sama, menyampaikan bahwa jika mereka tidak ikut lari, polisi akan menembaknya.

Gertakan Dahlan membuat ketiga remaja ini menjadi ketakutan sehingga ikut kabur bersama Dahlan.

"Dahlan mengatakan, kami semua mau ditembak oleh polisi. Karena takut, kami bertiga terpaksa ikut lari bersama Dahlan melewati plafon yang telah dibobol Dahlan dengan cara memanjat beberapa terali jeruji," dalih Imang sebelum dimasukkan ke tahanan Mapolres Bulukumba.

Imang mengaku tidak melihat Dahlan setelah kabur, sedangkan Imang, Rajawali, dan Wawan tetap bersama-sama. Ketiga pelajar SLTA ini menjadi tahanan Polsek Rilau Ale seminggu lalu, setelah terlibat dalam pencurian sepeda motor.

Imang bersama kedua kawannya mengaku terlibat dalam pencurian sepeda motor karena disuruh seorang pemuda yang baru dikenalnya. Pantauan Kompas.com, saat mereka masuk sempat dipukul tahanan lainnya.

Pasalnya, tahanan lainnya kesal karena ikut dimarahi polisi akibat ulah ketiga remaja yang sempat kabur dari tahanan tersebut.

Sementara itu, salah satu anggota Polsek Rilau Ale membantah bahwa empat tersangka pencuri itu akan ditembak. "Ah, itu alasan mereka saja untuk bisa kabur," ujar seorang anggota Polsek yang namanya enggan disebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau