KOMPAS.com — Meski cat dinding terowongan itu terbilang baru, warnanya dicoba dipertahankan seperti aslinya. Berkelir putih, dengan sedikit imbuhan warna hitam; itulah warna asli sebagaimana dipertunjukkan oleh foto-foto dari zaman penjajahan Belanda dahulu. Itulah terowongan Lampengan!
Di atas lubang terowongan itu tertulis angka 1879-1882. Memang di masa itulah pemerintah kolonial Hindia Belanda mempekerjakan tenaga-tenaga pribumi untuk menggali lubang menembus gunung. Tepatnya bukan Hindia Belanda, melainkan Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen, yang menginisiasi pembangunan terowongan itu.
Terowongan itu pun dibangun bertepatan saat Staatspoorwegen membangun jalur kereta Sukabumi-Lampengan-Cianjur. Jalur itu baru dioperasikan pada 10 Mei 1883. Baru kemudian jalur kereta api Cianjur-Padalarang-Bandung dioperasikan pada 10 September 1884.
Lampengan konon berasal dari kata dalam bahasa Belanda, Lampagan, nyalakan lampu. Mirip penyebutan Jalan Malioboro yang konon merupakan serapan dari kata Marlborough.
Terowongan Lampengan ini terletak di Kecamatan Cibeber, perbatasan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Pada 8 Februari 2001, terowongan ini runtuh, tetapi kini terowongan sepanjang 687 meter itu telah selesai direnovasi.
Ditemui di Lampengan, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan mengatakan, tahun 2010 dikucurkan Rp 8 miliar. Terowongan itu sudah selesai direnovasi. "Meski masih ada rembesan air, yang sudah saya perintahkan untuk diperbaiki," katanya.
Agus Imansyah, pentolan dari komunitas KRL Mania, mengatakan, para pencinta kereta yang tergabung dalam Komunitas Edan Sepur telah menyusuri terowongan itu, bahkan di waktu malam.
Ternyata, sekelompok turis dari Jepang telah pula dipandu oleh pengusaha batubara Achmad Rizal untuk menyusuri terowongan itu. Di hari-hari ini, keselamatan saat menyusuri terowongan itu memang sangat terjamin karena belum ada perjalanan kereta reguler di lintas tersebut.
Sebenarnya, ada terowongan yang lebih panjang di Jawa Barat, yakni terowongan Sasaksaat, yang juga dibangun oleh Staatsspoorwagen tahun 1902-1903, dengan panjang 949 meter. Terowongan itu berada di jalur Purwakarta dan Padalarang di Km 143 + 144.
Persoalannya, setiap hari setidaknya ada 44 kereta api yang melintas secara reguler. Dengan demikian, bagaimana bila ada peminat wisata menyusuri terowongan? Pastinya akan dihadang oleh tingginya lalu lintas kereta di terowongan itu.
Kabar baiknya, Rizal berniat menghidupkan satu lokomotif uap dari museum transportasi di Taman Mini Indonesia Indah untuk melayani jalur kereta wisata dari Stasiun Sukabumi hingga Stasiun Lampengan hanya 20 meter di timur Lampengan. Nantinya, kereta lokomotif uap itu akan menarik 3-4 gerbong kereta kayu.
Jalur kereta dari Sukabumi hingga Lampengan pun menyuguhkan pemandangan sangat indah. Di kanan-kiri terdapat sawah, terkadang diimbuhi pemandangan pegunungan di kejauhan maupun ngarai yang dilewati oleh sungai-sungai berair deras.
Assistant Rail Business Development Egis International Deddy Herlambang mengatakan, sudah dua tahun dibutuhkan untuk menghidupkan lokomotif uap untuk melayani jalur kereta Sukabumi-Lampengan.
Padahal, kata Rizal, andai izin sudah keluar untuk merestorasi lokomotif uap itu, hanya dalam enam bulan kereta wisata tersebut akan dapat beroperasi. Nantinya, perjalanan itu dimulai dari Stasiun Sukabumi.
Sementara itu, meski sama-sama berakhir di Stasiun Lampengan, PT KAI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Juli 2011 berencana mengoperasikan Kereta Wisata Argo Peuyeum untuk menyusuri ruas Bandung-Lampengan berjarak 58 kilometer.
Nantinya, potensi kereta wisata itu rencananya disatukan dengan wisata budaya situs megalitikum Gunung Pandang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Situs yang disebut-sebut sebagai situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu hanya berjarak 8 kilometer dari Stasiun Lampengan, menembus perkebunan teh.
Ayo, kapan ke terowongan Lampengan...?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang