Pembobolan bank

Bank Mega Akui Ada Dana Bermasalah, 80 M

Kompas.com - 09/05/2011, 19:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Corporate Secretary Bank Mega Gatot Aris Munandar mengakui ada dana bermasalah di Bank Mega sebesar Rp 80 miliar. Dana tersebut diduga adalah dana Pemerintah Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, yang diduga dikorupsi. Meski demikian, ia membantah bahwa kasus ini ada kaitannya dengan kasus dana Elnusa senilai Rp 111 miliar.

Lewat penjelasan tertulis Gatot menyampaikan, setelah kasus Elnusa terjadi, Bank Mega berinisiatif memeriksa semua transaksi yang mencurigakan.

Hasilnya, Bank Mega menemukan transaksi keuangan Pemkab Batubara yang ditempatkan di deposit on call senilai Rp 80 miliar. Bank Mega kemudian melaporkan kasus ini ke Bank Indonesia dan instansi terkait lainnya untuk ditindaklanjuti.

Gatot menyebutkan, penempatan dana terjadi karena adanya kerja sama yang melibatkan person to person di antara oknum yang diduga terlibat. "Saat ini Bank Mega telah memberhentikan pemimpin Cabang Pembantu Bank Mega-Jababeka," tulis Gatot.

Selanjutnya, kasus ditangani pihak berwajib. Oknum yang diduga terlibat juga sudah diamankan. Menurut Gatot, kasus dana Rp 80 miliar ini tidak ada hubungannya dengan kasus dana Elnusa.

"Kegiatan operasional perbankan di Bank Mega saat ini tetap berjalan dengan baik dan Bank Mega senantiasa melakukan kegiatan operasional sesuai dengan prosedur yang berlaku," tulis Gatot.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau