Pln

1.029 Desa Gelap Gulita, Tanpa Listrik

Kompas.com - 09/05/2011, 20:37 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Sekitar seribu (1.029) desa di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah hingga kini belum menikmati listrik karena keterbatasan jaringan dan daya listrik PLN wilayah dua provinsi tersebut.

Hal itu disampaikan Manager Bidang Niaga Pelayanan Masyarakat PLN wilayah Kalsel dan Kalimantan Tengah, Syawaludin Sofyan, di Banjarmasin, Senin (9/5/2011) pada seminar dan rapat tahunan bidang ilmu MIPA untuk Perguruan Tinggi Negeri seluruh Indonesia.

Menurut dia, dari jumlah tersebut, desa-desa di Kalimantan Tengah yang belum dialiri listrik mencapai 867 desa dari total 1.408 desa sehingga baru 38,42 persen atau 541 desa yang telah mendapatkan penerangan PLN.

Pada 2011 ini, kata Syawal, pihaknya akan meningkatkan menjadi 47,73 persen desa yang dialiri listrik.

Sedangkan untuk Kalsel, jauh lebih baik karena dari 1.981 desa yang telah dialiri listrik sebanyak 1.819 desa atau sekitar 91,82 persen telah mendapatkan penerangan dari PLN. "Jadi untuk Kalsel sisanya tinggal 162 desa yang belum berlistrik," katanya.

Memenuhi kebutuhan listrik baik di Kalsel dan Kalteng untuk rumah tangga maupun industri, kata dia, kini PLN sedang mengembangkan berbagai pembangkit baik itu PLTA, PLTU hingga PLTS untuk program pembangunan 2011 hingga 2019.

Beberapa pembangunan pembangkit yang akan beroperasi pada 2011 ini antara lain yaitu khusus di Kalteng yaitu PLTU IPP Pangkalan Bun sebesar 2X7 megawatt beroperasi pada Juli 2011, PLTU Buntok dengan daya yang sama beroperasi pada awal 2012/2013, PLTU Kuala Pembuang 2X3 MW sedang dalam proses lelang, kemudian Kuala Kurun dengan daya yang sama, juga sudah siap lelang.

Selanjutnya, kata dia, PLTU Pulang Pisau siap 2x60 MW siap operasi pada 2012 dan 2013, PLTGU IPP Muara Teweh 120 MW sedang dalam master plan siap dibangun 2014, PLTU Sampit 2x25 MW operasi 2014, PLTU Pulang Pisau ekstension 100 MW beroperasi pada 2015.

Selain itu, PLTA Kusan 65 MW diperkirakan mulai ada pendanaan pada 2016, pada tahun yang sama juga dibangun PLTU IPP Kalteng 2x100 MW, kemudian PLTA Jerawi 72 MW, PLTA Juloi 240 MW.

"Kami harap seluruh rencana pembangunan pembangkit itu mampu memenuhi seluruh kebutuhan listrik di Kalteng baik untuk industri maupun rumah tangga, sekaligus juga untuk mengantisipasi perkembangan kebutuhan listrik daerah tersebut," katanya.

Sedangkan untuk Kalsel, dalam waktu dekat atau sekitar Agustus dan akhir 2011 dioperasikan PLTU Asam-Asam III dan IV sebesar 2x60 megawatt, kemudian PLTU Kotabaru 2x7 MW beroperasi 2012.

Selanjutnya, PLTU IPP Kalsel kini sedang proses lelang sebesar 2x100 MW dan PLTM Riam Kiwa 4 MW sedang dalam proses lelang.

Diharapkan, bila seluruh proses pembangunan selesai, listrik tersebut bisa dilakukan interkoneksi dengan Kaltim, sehingga kekurangan daya untuk wilayah tetangga Kalsel tersebut juga terpenuhi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau