Pengusaha Malang Siap Selamatkan Arema

Kompas.com - 09/05/2011, 21:49 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Krisis finansial yang menimpa Arema Indonesia belum teratasi. Walaupun sudah dilelang, belum juga ada yang membelinya. Karena itu, pengusaha Malang, Jawa Timur, siap menyelamatkan tim juara bertahan Liga Super Indonesia  (LSI) itu dengan cara membentuk konsorsium.

Hal itu disampaikan Wali Kota Malang Peni Suparto, yang juga Ketua Umum Persema Malang. "Pengusaha Malang siap menyelamatkan Arema dengan membentuk konsorsium," katanya kepada wartawan, Senin (9/5/2011).

Anggota konsorsium tersebut, jelas pria yang akrab disapa Inep, adalah pengusaha yang ada di Malang Raya (Kota Malang/Batu dan Kabupaten Malang). "Saya yakin, kalau pengusaha Malang membentuk konsorsium, Arema bisa terselamatkan," katanya.

Menurut Peni, pertama-tama para pengusaha yang ada di Malang Raya harus dikumpulkan terlebih dahulu untuk membicarakan hal itu, lalu membentuk konsorsium demi menyelamatkan Arema. "Saya siap menjadi pelopor dan siap ikut bergabung di dalamnya," katanya.

Para pengusaha Malang Raya itu, katanya, tidak akan keberatan untuk membentuk konsorsium. Asalkan, nama Arema dikembalikan lagi ke aslinya, yaitu Arema Malang, bukan Arema Indonesia. "Saya sejak dulu tidak sepakat dengan nama Arema Indonesia itu," katanya.

Adapun anggota konsorsium nantinya harus memiliki persepsi yang sama, yakni untuk menyelamatkan dan membesarkan Arema dalam persepakbolaan nasional maupun internasional. "Untuk itu, para pengusaha Malang Raya ini sangat dituntut kepeduliannya demi menyelamatkan Arema," katanya.

Hal senada diungkapkan Bupati Malang Rendra Kresna. Pihaknya berjanji siap memfasilitasi pembentukan konsorsium tersebut. "Asalkan cara pola pikir dan cara pandang pengusaha itu sama, yaitu untuk membesarkan Arema," akunya.

Menurut pria yang juga Presiden Kehormatan Arema itu, dengan pola pikir yang sama, yakin Arema bisa terselamatkan. Karena untuk saat ini sepak bola Indonesia masih belum bisa dijadikan sebagai lahan bisnis yang bagus.

Dari itu, tambahnya, Arema harus dikelola oleh orang-orang profesional dan manajemen yang benar-benar profesional sehingga banyak sponsor yang tertarik untuk menjadi sponsor Arema.

"Apalagi, Arema memiliki suporter fatanik yang luar biasa banyak, yakni Aremania. Itu yang layak jual. Makanya, juga bisa diselamatkan dengan model konsorsium. Saya berharap Arema tidak jatuh kepada pihak tertentu yang malah tak bisa memajukan Arema."

Arema kini sudah memiliki utang sebesar Rp 5,6 miliar. Selain itu, Arema juga butuh dana untuk biaya operasional untuk menuntaskan kompetisi LSI yang belum selesai. Hal itu diperkirakan membutuhkan dana senilai Rp 10 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau