Ancaman bom

Metro TV Dapat Teror Melalui SMS

Kompas.com - 10/05/2011, 04:31 WIB

jakarta, kompas - Kantor stasiun televisi Metro TV di Jalan Tidar Mas Raya, Kelurahan Kedoya, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, diancam bom, Senin (9/5) sore.

Sekitar 1.800 karyawan termasuk yang bekerja untuk surat kabar Media Indonesia sempat diungsikan selama pencarian bom dan penyisiran gedung oleh satuan Gegana.

Ancaman bom itu berasal dari pesan singkat (SMS) yang diterima telepon seluler milik seorang karyawan pada pukul 15.00 WIB. Isi pesan itu, pukul 16.00 WIB akan ada ledakan bom di gedung Metro TV. Karyawan Muslim diminta menyingkir.

Demikian diutarakan Pemimpin Redaksi Metro TV Elman Saragih saat dihubungi semalam. Ancaman itu segera dilaporkan dan ditindaklanjuti dengan penyisiran gedung oleh Gegana.

Hasil penyisiran tidak menemukan bom. Meskipun demikian, selama penyisiran gedung, sekitar 1.800 karyawan Metro TV dan Media Indonesia tidak bisa bekerja karena diminta keluar dari gedung. ”Karyawan diungsikan selama satu jam penyisiran,” kata Elman.

Meski demikian, ujar Elman, agar produksi acara tidak terganggu, kru yang bertugas memproduksi siaran sore itu terpaksa tidak dievakuasi keluar gedung. ”Kami terpaksa mengambil risiko agar siaran bisa jalan terus,” katanya.

Amat disayangkan

Elman amat menyayangkan ancaman bom itu karena mengganggu kinerja media massa dan menimbulkan keresahan masyarakat. Setiap ancaman bom juga menimbulkan ketakutan.

Metro TV merespons ancaman itu dengan serius yakni menghubungi petugas dan sempat mengevakuasi karyawan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Elman juga menegaskan, ancaman bom tidak bisa dianggap pepesan kosong. Setiap ancaman harus dipastikan benar atau tidak meskipun hal itu melelahkan dan sangat merepotkan.

Soal ancaman bom yang tidak bisa dianggap sepele, Elman mencontohkan kasus bom buku yang melukai petugas Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur di kompleks Utan Kayu, bom bunuh diri di masjid Polres Kota Cirebon, dan temuan bom yang siap diledakkan di dekat Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang. ”Hari ini ancaman menimpa kami, besok bisa ditujukan ke orang lain,” kata Elman.

Pengirim ancaman bom jelas ingin menciptakan suasana selalu resah dan takut di masyarakat.

(BRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau