jakarta, kompas
Sekitar 1.800 karyawan termasuk yang bekerja untuk surat kabar Media Indonesia sempat diungsikan selama pencarian bom dan penyisiran gedung oleh satuan Gegana.
Ancaman bom itu berasal dari pesan singkat (SMS) yang diterima telepon seluler milik seorang karyawan pada pukul 15.00 WIB. Isi pesan itu, pukul 16.00 WIB akan ada ledakan bom di gedung Metro TV. Karyawan Muslim diminta menyingkir.
Demikian diutarakan Pemimpin Redaksi Metro TV Elman Saragih saat dihubungi semalam. Ancaman itu segera dilaporkan dan ditindaklanjuti dengan penyisiran gedung oleh Gegana.
Hasil penyisiran tidak menemukan bom. Meskipun demikian, selama penyisiran gedung, sekitar 1.800 karyawan Metro TV dan Media Indonesia tidak bisa bekerja karena diminta keluar dari gedung. ”Karyawan diungsikan selama satu jam penyisiran,” kata Elman.
Meski demikian, ujar Elman, agar produksi acara tidak terganggu, kru yang bertugas memproduksi siaran sore itu terpaksa tidak dievakuasi keluar gedung. ”Kami terpaksa mengambil risiko agar siaran bisa jalan terus,” katanya.
Elman amat menyayangkan ancaman bom itu karena mengganggu kinerja media massa dan menimbulkan keresahan masyarakat. Setiap ancaman bom juga menimbulkan ketakutan.
Metro TV merespons ancaman itu dengan serius yakni menghubungi petugas dan sempat mengevakuasi karyawan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Elman juga menegaskan, ancaman bom tidak bisa dianggap pepesan kosong. Setiap ancaman harus dipastikan benar atau tidak meskipun hal itu melelahkan dan sangat merepotkan.
Soal ancaman bom yang tidak bisa dianggap sepele, Elman mencontohkan kasus bom buku yang melukai petugas Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur di kompleks Utan Kayu, bom bunuh diri di masjid Polres Kota Cirebon, dan temuan bom yang siap diledakkan di dekat Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang. ”Hari ini ancaman menimpa kami, besok bisa ditujukan ke orang lain,” kata Elman.
Pengirim ancaman bom jelas ingin menciptakan suasana selalu resah dan takut di masyarakat.