Dipasena

Listrik Tak Ada, Udang di Dipasena Mati

Kompas.com - 10/05/2011, 04:47 WIB

Bandar Lampung Kompas - Ribuan warga petambak plasma di Bumi Dipasena, Rawajitu, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, telantar. Kondisi ini diperburuk setelah aliran listrik diputuskan akibat penghentian operasional tambak sehingga ribuan udang yang dibudidayakan mati.

”Malam (Sabtu, 7/5) listrik mulai padam, paginya semua udang ngambang. Mati,” kata Ferly Gandhi, petambak di Bumi Dipasena Jaya, Senin (9/5).

Dia mengaku menderita kerugian puluhan juta rupiah akibat kematian ribuan udang tersebut. Sekitar 1.000 tambak yang belum dipanen, kini, semuanya mati karena kincir untuk sirkulasi air tidak hidup.

Penghentian pinjaman bulanan dari perusahaan sebesar Rp 900.000-Rp 1,2 juta dan listrik diputus, ungkapnya, para petambak dan keluarganya makin menderita. ”Kami jadi pengangguran. Kasihan anak-anak. Padahal, mereka tengah ujian, tak ada listrik,” ujar Ferly, mantan Kepala Kampung Bumi Dipasena Jaya ini.

Selama ini, sekitar 7.200 petambak plasma dan anggota keluarganya menggantungkan utang bulanan dari PT AWS untuk biaya hidup selama berlangsung revitalisasi tambak. Sebagian lagi mencari tambahan dengan menjadi tukang ojek atau mencari ikan di kanal-kanal.

Anggota Komisi I DPRD Lampung, Imer Darius, mengatakan, pemerintah harus secepatnya mengambil alih penyelesaian persoalan. Kalau perlu, presiden turun tangan langsung. Pasalnya, persoalan Dipasena menyangkut pula hajat hidup ribuan orang, ekonomi nasional, dan investasi bernilai tinggi.

Sularno, petambak, mengatakan, mayoritas plasma kini memilih menahan diri untuk tidak berbuat onar serta menjaga situasi kondusif sambil menunggu keputusan pemerintah. ”Batas akhirnya, kan, 13 Mei ini untuk tim dari pemerintah bekerja dan mengeluarkan putusan menyangkut nasib kami,” ujarnya.

Aksi ratusan petambak menduduki Kantor Sekretariat Perhimpunan Petambak Udang Windu (P3UW) berakhir Senin (9/5) dini hari. Massa kembali ke tambaknya masing-masing setelah ada ajakan menjaga situasi kondusif di Dipasena. (jon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau