Bandar Lampung Kompas
”Malam (Sabtu, 7/5) listrik mulai padam, paginya semua udang
Dia mengaku menderita kerugian puluhan juta rupiah akibat kematian ribuan udang tersebut. Sekitar 1.000 tambak yang belum dipanen, kini, semuanya mati karena kincir untuk sirkulasi air tidak hidup.
Penghentian pinjaman bulanan dari perusahaan sebesar
Selama ini, sekitar 7.200 petambak plasma dan anggota keluarganya menggantungkan utang bulanan dari PT AWS untuk biaya hidup selama berlangsung revitalisasi tambak. Sebagian lagi mencari tambahan dengan menjadi tukang ojek atau mencari ikan di kanal-kanal.
Anggota Komisi I DPRD Lampung, Imer Darius, mengatakan, pemerintah harus secepatnya mengambil alih penyelesaian persoalan. Kalau perlu, presiden turun tangan langsung. Pasalnya, persoalan Dipasena menyangkut pula hajat hidup ribuan orang, ekonomi nasional, dan investasi bernilai tinggi.
Sularno, petambak, mengatakan, mayoritas plasma kini memilih menahan diri untuk tidak berbuat onar serta menjaga situasi kondusif sambil menunggu keputusan pemerintah. ”Batas akhirnya, kan, 13 Mei ini untuk tim dari pemerintah bekerja dan mengeluarkan putusan menyangkut nasib kami,” ujarnya.
Aksi ratusan petambak menduduki Kantor Sekretariat Perhimpunan Petambak Udang Windu (P3UW) berakhir Senin (9/5) dini hari. Massa kembali ke tambaknya masing-masing setelah ada ajakan menjaga situasi kondusif di Dipasena.