Merpati Tetap Pakai MA-60

Kompas.com - 10/05/2011, 04:59 WIB

Jakarta, Kompas - Maskapai Merpati Nusantara tetap akan menerbangkan 12 pesawat jenis MA-60 buatan China. Merpati memastikan pesawat baling-baling itu masih aman. Merpati juga mengaku tidak ada paksaan dalam pembelian MA-60 ini.

”Saya sudah pernah ikut tes terbang dengan MA-60 ke Bangkok dan Medan. Saya bukan orang sadis, jadi telah memastikan keselamatan terbang bagi teman-teman pilot di Merpati,” kata Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony, Senin (9/5), di Jakarta. Ia didampingi pula oleh belasan pilot MA-60.

Jhony menegaskan, pesawat Merpati yang jatuh di Kaimana, Papua Barat, tidak meledak, juga tidak mengalami patah sayap. ”Dalam waktu satu minggu lagi, penyebab sementara kecelakaan dapat diketahui,” ujarnya. MA-60 itu mulai diterbangkan 6 Desember 2010 dan mulai terbang di Papua pada 16 Maret 2011.

Ditegaskan Jhony, Merpati tak pernah dipaksa untuk menerbangkan MA-60. ”Memang ada subsidiary loan agreement dengan China, tapi Merpati tak dipaksa menerbangkan MA-60. Kami telah menimbang dan memikirkannya dengan baik,” katanya.

”China itu memberi bunga pinjaman 3 persen (per tahun). Lantas harga MA-60 jelas kompetitif dibanding ATR-72 (buatan Perancis), maka itu yang dipilih Merpati,” kata Jhony.

Catatan yang ada menyebutkan, harga MA-60 adalah 12,5 juta-14,5 juta dollar AS (Rp 106 miliar-Rp 123 miliar) per unit, sedangkan ATR-72 adalah 16,5 juta-20 juta dollar AS per unit.

Soal musibah yang dialami MA-60, disebutkan kecelakaan di Kaimana merupakan musibah ketiga yang dialami pesawat buatan China ini sejak November 2009. Pada 3 November 2009, sebuah MA-60 milik Air Zimbabwe gagal lepas landas dari Bandara Internasional Harare. Pada 18 Maret 2011, MA-60 milik militer Bolivia dengan 33 penumpang mendarat dengan roda depan tidak terkunci di Rurrenabague, Bolivia.

Menurut Jhony, dua MA-60 Merpati akan datang pada 19-20 Mei 2011.

”Pesawat MA-60 tetap akan melayani rute Nabire, Sorong, dan Kaimana di Papua. Kami sudah kirim MA-60 baru. Percayalah aman,” kata Jhony.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar meminta direksi Merpati melakukan evaluasi menyeluruh pasca-kecelakaan. Evaluasi ini antara lain mencakup sistem kerja, prosedur pelayanan, perawatan pesawat, serta peningkatan perhatian dan pembinaan terhadap sumber daya manusia.

Mustafa menuturkan bahwa Merpati masih diperbolehkan menggunakan pesawat MA-60 buatan China. Alasannya, saat dibeli, pesawat itu masih dikategorikan layak terbang.

Tak perlu FAA

Menurut Jhony, untuk menerbangkan MA-60 di Indonesia tak dibutuhkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA). Apalagi sudah ada sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Direktorat Jenderal di China (Civil Aviation of Administration of China).

”Siapa bilang tak aman. Urusan sertifikasi itu lebih ke urusan bisnis dari satu negara ke negara lain,” kata Jhony soal tak adanya sertifikat dari FAA. Pesawat Boeing dan Airbus pun, kata Jhony, butuh sertifikasi dari Indonesia jika ingin terbang di negara ini.

Diakui Jhony, Merpati sedang dalam masa sulit. Namun, Merpati dapat bertahan apabila ada suntikan dana dari pemerintah. ”Jika Merpati dilikuidasi, biayanya lebih besar,” ujarnya. Kini, ada 1.300 karyawan tetap dan 800 karyawan kontrak.

Utang Merpati kepada pemilik pesawat (lessor) masih 4,8 juta dollar AS, turun dari 24 juta dollar AS pada Mei 2010. Total utang Rp 1,9 triliun, termasuk utang kepada Pertamina.

Tiga korban

Hingga Senin petang, tiga korban masih belum ditemukan, yaitu pilot Purwadi Wahyu, kopilot Paul Nap, dan Ari Ruru. Diperkirakan ketiga jenazah terjepit atau ada di dalam kokpit pesawat yang belum ditemukan. Karena itu, menurut Kepala Basarnas Nono Sampono, pencarian bangkai pesawat dan jenazah korban akan menggunakan pendeteksi logam.

Senin ini ditemukan lagi dua jenazah, salah satunya adalah Abimanyu (4), putra Teddy Efendi, di Tanjung Simora, sekitar 2,4 km dari ujung landasan bandara. Hingga hari ketiga pencarian sudah 22 dari 25 korban yang ditemukan. Pencarian yang melibatkan tim gabungan dari Basarnas, Polisi Air, dan Concervation International akan berlanjut. ”Fokus pencarian tetap korban yang hilang,” ujar Nono.

Pemulangan jenazah korban berjalan lancar meski terkendala cuaca. Menurut Coenrad Pattiselano, dokter di Puskesmas Kaimana, 22 jenazah korban sudah dipulangkan ke tempat asalnya.

Sementara itu, jenazah pramugari Merpati Airlines, Sumayani (32), kemarin dimakamkan di Semarang, Jawa Tengah. Jenazah Sumayani disemayamkan di kediaman orangtuanya di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Kotak hitam (flight data recorder) sudah ditemukan, Minggu petang, di kedalaman laut sekitar 12 meter. Adapun CVR baru ditemukan Senin pukul 16.20 WIT, tidak jauh dari lokasi ditemukannya kotak hitam.

Kotak CVR adalah benda penting selain yang dibutuhkan untuk penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat. Suara dan dialog pilot yang terekam akan mengungkap kondisi pesawat dan yang dialami oleh pilot.

(APA/THT/UTI/RYO/ONI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau