Ekspor impor

Impor Bahan Baku Plastik, 1 Juta Ton

Kompas.com - 10/05/2011, 15:49 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.Com - Satu juta ton kebutuhan bahan baku industri plastik atau sekitar 40 persen dari total kebutuhan, hingga kini masih bergantung impor. Untuk mewujudkan target swasembada pada tahun 2020, dibutuhkan pembangunan tiga kilang minyak baru.

"Kebutuhan bahan baku plastik kita tahun 2,6 juta ton, namun ketersediaan dalam negeri baru 1,6 juta ton. Sisanya kami impor dari berbagai negara, terutama China dan Jepang," kata Sekretaris Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar AD Budiyono, di Jakarta, Selasa (10/5).

Menurut dia, kebutuhan bahan baku tiap tahun mengalami peningkatan. Tahun 2010 kebutuhan mencapai 2,4 juta ton, dan tahun ini sudah meningkat menjadi 2,6 juta ton. Kebutuhan plastik terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk. Sayangnya kita masih bergantung pada bahan baku impor," kata Fajar.

Fajar menambahkan, bahan baku plastik berasal dari olahan minyak bumi. Saat ini pemerintah sudah memiliki lima kilang minyak yakni Cilacap, Balikpapan, Balongan, Wajo, dan Dumai. Selain itu masih ada dua kilang minyak swasta. " Kapasitasnya masih terbatas sehingga butuh tiga kilang minyak lagi," katanya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau