Pertanian

Swasta agar Didorong Kembangkan Kedelai

Kompas.com - 11/05/2011, 04:32 WIB

Jakarta, Kompas - Budidaya kedelai tidak bisa lagi mengandalkan pola konvensional yang bertumpu pada petani kecil karena terbukti tidak efektif mendongkrak produksi. Sudah saatnya pemerintah mendorong swasta mengembangkan kedelai dalam skala luas.

Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini, Selasa (10/5) di Jakarta, mengungkapkan, kalau tetap mengandalkan pola konvensional jangan harap produksi bisa meningkat pesat. ”Karena begitu harga kedelai jatuh, petani tidak mau menanam,” katanya.

Petani tidak salah karena bagaimanapun mereka juga menginginkan kehidupan yang lebih baik. Kalau dengan membudidayakan kedelai pendapatan mereka rendah, untuk apa memaksakan diri. Lebih baik mengembangkan komoditas lain yang lebih menguntungkan.

Akibatnya, produksi kedelai stagnan, bahkan turun. Badan Pusat Statistik mencatat, tahun 2010 produksi kedelai hanya 908.000 ton atau turun 66.401 ton dari tahun 209 sebanyak 974.512 ton.

Selain produksi turun, kata Benny, pola budidaya kedelai yang sporadis dari Sabang sampai Merauke membuat manajemen transportasi sulit. Manajemen stok dan distribusi menjadi mahal. Di lain sisi, Indonesia dihadapkan produksi kedelai impor yang murah.

Benny menyambut baik keberhasilan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian dalam mencetak varietas kedelai unggul dengan produktivitas yang lebih tinggi, seragam, dan warna cerah. Akan tetapi, harus diingat bahwa produktivitas yang lebih baik hanya bisa dicapai di lahan uji coba dengan luasan 1.000-2.000 meter persegi. Bila ditanam skala luas, terjadi deviasi yang tinggi.

Karena itu, Benny meminta pemerintah agar mendorong swasta untuk terjun mengembangkan budidaya kedelai. Caranya dengan mengembangkan kawasan pertanian kedelai skala luas, paling tidak 500.000 hektar untuk satu kawasan.

”Lebih baik memberikan subsidi kepada perusahaan swasta nasional daripada petani di negara lain,” katanya.

Seperti diberitakan, impor kedelai terus naik. Tahun 2010 impor biji kedelai mencapai 1,7 juta ton. Selain impor kedelai, impor bungkil kedelai juga meningkat. Tahun 2010 mencapai 2,87 juta ton.

Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian Erlina Ginting mengungkapkan, banyak varietas kedelai baru yang dihasilkan memiliki produktivitas lebih tinggi, seragam warna cerah dengan ukuran yang besar, misalnya varietas Anjasmoro, Burangrang, dan Grobogan.

”Memang, tantangan utama budidaya kedelai adalah iklim,” katanya.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menyatakan, tantangan utama produksi kedelai nasional karena tanaman tersebut masih dianggap tanaman sela. Di Jawa, misalnya, tanaman kedelai ditanam setelah petani menanam satu atau dua kali tanaman padi.

Akibatnya, produksi kedelai tidak stabil dan tidak seragam. Produksi kedelai dalam negeri juga warnanya kurang cerah dan ukuran biji kedelainya lebih kecil dari kedelai impor. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau