Jakarta, Kompas -
Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini, Selasa (10/5) di Jakarta, mengungkapkan, kalau tetap mengandalkan pola konvensional jangan harap produksi bisa meningkat pesat. ”Karena begitu harga kedelai jatuh, petani tidak mau menanam,” katanya.
Petani tidak salah karena bagaimanapun mereka juga menginginkan kehidupan yang lebih baik. Kalau dengan membudidayakan kedelai pendapatan mereka rendah, untuk apa memaksakan diri. Lebih baik mengembangkan komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Akibatnya, produksi kedelai stagnan, bahkan turun. Badan Pusat Statistik mencatat, tahun 2010 produksi kedelai hanya 908.000 ton atau turun 66.401 ton dari tahun 209 sebanyak 974.512 ton.
Selain produksi turun, kata Benny, pola budidaya kedelai yang sporadis dari Sabang sampai Merauke membuat manajemen transportasi sulit. Manajemen stok dan distribusi menjadi mahal. Di lain sisi, Indonesia dihadapkan produksi kedelai impor yang murah.
Benny menyambut baik keberhasilan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian dalam mencetak varietas kedelai unggul dengan produktivitas yang lebih tinggi, seragam, dan warna cerah. Akan tetapi, harus diingat bahwa produktivitas yang lebih baik hanya bisa dicapai di lahan uji coba dengan luasan 1.000-2.000 meter persegi. Bila ditanam skala luas, terjadi deviasi yang tinggi.
Karena itu, Benny meminta pemerintah agar mendorong swasta untuk terjun mengembangkan budidaya kedelai. Caranya dengan mengembangkan kawasan pertanian kedelai skala luas, paling tidak 500.000 hektar untuk satu kawasan.
”Lebih baik memberikan subsidi kepada perusahaan swasta nasional daripada petani di negara lain,” katanya.
Seperti diberitakan, impor kedelai terus naik. Tahun 2010 impor biji kedelai mencapai 1,7 juta ton. Selain impor kedelai, impor bungkil kedelai juga meningkat. Tahun 2010 mencapai 2,87 juta ton.
Peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian Erlina Ginting mengungkapkan, banyak varietas kedelai baru yang dihasilkan memiliki produktivitas lebih tinggi, seragam warna cerah dengan ukuran yang besar, misalnya varietas Anjasmoro, Burangrang, dan Grobogan.
”Memang, tantangan utama budidaya kedelai adalah iklim,” katanya.
Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menyatakan, tantangan utama produksi kedelai nasional karena tanaman tersebut masih dianggap tanaman sela. Di Jawa, misalnya, tanaman kedelai ditanam setelah petani menanam satu atau dua kali tanaman padi.
Akibatnya, produksi kedelai tidak stabil dan tidak seragam. Produksi kedelai dalam negeri juga warnanya kurang cerah dan ukuran biji kedelainya lebih kecil dari kedelai impor.