Bulu tangkis

Indonesia Hadapi Rusia di Laga Pertama

Kompas.com - 11/05/2011, 05:35 WIB

Jakarta, Kompas - Rusia akan menjadi lawan pertama Indonesia di babak penyisihan grup B Piala Sudirman di Qingdao, China, 22 Mei mendatang.

Kemenangan dari Rusia akan menjadi modal penting untuk menghadapi Malaysia di laga berikutnya yang akan digelar tiga hari setelah pertandingan melawan Rusia.

”Target kita di penyisihan grup memang harus bisa sapu bersih. Pertandingan melawan Rusia cukup penting karena ini akan menjadi langkah awal kita,” kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Hadi Nasri di Jakarta, Selasa (10/5).

Menurut Hadi Nasri, secara kekuatan, Indonesia masih lebih unggul dibanding Rusia dan Malaysia. Namun, pemain-pemain Indonesia tidak boleh lengah karena kejutan bisa saja terjadi.

Hanya dua tim teratas yang nantinya akan terus melaju ke babak perempat final. Untuk menghindari lawan berat, Indonesia harus bisa tampil sebagai juara grup.

Pada Piala Sudirman kali ini, Indonesia ditempatkan sebagai unggulan ketiga di bawah China dan Denmark. Artinya, jika hanya menempati runner-up grup B, di babak perempat final bisa saja Indonesia bertemu China atau Denmark dan unggulan lainnya, Taiwan.

Hadi Nasri mengatakan, waktu yang tersisa ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pemulihan dan latihan. ”Saya sudah mengecek kesiapan pemain. Latihan dilakukan rutin tanpa libur,” ujar Hadi Nasri yang juga ditunjuk sebagai manajer tim Piala Sudirman.

Menurut Hadi Nasri, rencananya tim Indonesia akan berangkat ke Qingdao pada 19 Mei atau tiga hari sebelum pertandingan. ”Keberangkatan lebih awal akan kami manfaatkan untuk latihan dan penyesuaian kondisi lapangan,” ujar Hadi Nasri.

Baru sekali juara

Dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Piala Sudirman, Indonesia baru satu kali tampil sebagai juara, yakni pada 1989 di Jakarta. Setelah itu, tim China mendominasi. Pada Piala Sudirman 2009 lalu, China tampil sebagai juara setelah di final mengalahkan Korea Selatan. Sementara tim Indonesia hanya bertahan hingga semifinal.

Pada laga kali ini, PBSI juga tidak berani memasang target maksimal. Mereka hanya memprediksi hasil optimal yang bisa diraih tim Merah Putih sampai babak semifinal.

”Bukannya kita tidak percaya diri. Faktanya, kekuatan yang kita punya saat ini masih juga tidak lebih kuat dibanding China, Denmark, atau Korea Selatan. Akan tetapi, kami tetap akan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan hasil terbaik,” kata Sekjen PBSI Yacob Rusdianto.

Turnamen Chandra Wijaya

Sementara itu, mantan pebulu tangkis nasional Chandra Wijaya kembali akan menggelar turnamen ”Candra Wijaya Men’s Doubles Championship” di GOR Asia Afrika mulai hari ini sampai 14 Mei mendatang.

Sebanyak 170 pasangan dari 55 klub akan tampil pada turnamen yang memperebutkan total hadiah 25.000 dollar Amerika Serikat ini. Mereka berasal dari klub lokal dan beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, India, dan Filipina.

Candra Wijaya mengatakan, Indonesia punya pemain ganda putra yang cemerlang, termasuk dalam mempertahankan tradisi emas di Olimpiade.

”Mudah-mudahan kejuaraan ini menjadi batu loncatan bagi pemain muda yang diharapkan ikut melestarikan tradisi emas,” katanya.

Selain pertandingan, juga ada acara lelang raket dan lukisan yang hasilnya akan disumbangkan bagi korban bencana gempa dan tsunami di Jepang. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau