Lalu lintas

Larangan Masuk Tol Bukan Solusi Terbaik

Kompas.com - 11/05/2011, 10:17 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Larangan truk masuk jalan tol dalam kota dinilai bukan merupakan solusi terbaik. Lalu lintas di jalan tol dalam kota memang menjadi lebih lancar, tetapi bakal bermasalah di ruas lainnya. Pemakai jasa truk barang terpaksa menempuh jarak lebih jauh sehingga biaya operasional bertambah.

Misalnya, hingga Rabu (11/5/2011), Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta harus menerjunkan petugas untuk mengatur lalu lintas di dekat pintu tol Cikunir 2.

Truk-truk melebihi 5.500 kilogram diminta tidak masuk ruas Lingkar Dalam-Pondok Gede-Cawang, tetapi Lingkar Luar-Jatiasih-Bintara. Namun, petugas tampak seperti kewalahan mencegati truk-truk agar tidak masuk jalur Lingkar Dalam-Pondok Gede-Cawang.

Pengaturan itu membuat arus kendaraan mengantre 1-2 kilometer atau berjalan tersendat menjelang pintu tol Cikunir 2. Sejumlah sopir mengeluhkan larangan masuk dalam tol membuat jarak tempuh bertambah 40-50 kilometer. Penghasilan dari kelebihan membeli solar menjadi berkurang.

Truk-truk ada yang berasal dari kawasan industri di Kabupaten Bekasi dengan tujuan Pulau Sumatera. Ruas tol yang biasanya dilewati adalah Cikampek-Jakarta, Cawang-Grogol (dalam kota), dan Jakarta-Merak.

Akibat pelarangan itu, dari pintu tol Cikunir 2, truk harus lewat jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR) yang lebih ke selatan dan barat dari tol dalam kota.

Direktur Operasi PT Jasa Marga (Persero) Adityawarman mengatakan, larangan berpotensi menimbulkan kemacetan di ruas-ruas yang berhubungan dengan pintu keluar tol JORR yang belum selesai dibangun atau terhubung dengan ruas tol lainnya.

Misalnya, ruas Ulujami-Kebon Jeruk (Jakarta Barat) belum selesai, padahal menghubungkan JORR dengan ruas tol Jakarta-Merak. Akibatnya, truk-truk yang melewati JORR tidak segera bisa masuk tol Jakarta-Merak, tetapi harus melewati jalan-jalan protokol umum di Jakarta Barat dan menimbulkan kemacetan.

Berdasarkan data Jasa Marga kurun Januari-Maret 2011, pelintas tol lingkar dalam (Cawang-Tomang) sekitar 15,784 juta kendaraan dalam sebulan atau 527.000 per hari. Adityawarman memperkirakan sekitar 10 persen atau 52.000 kendaraan per hari yang melintas adalah truk.

Dari data itu, jumlah truk pelintas memang tidak terlalu banyak. Namun, jika dialihkan begitu saja, truk-truk yang dialihkan jalurnya bisa menimbulkan kemacetan di ruas jalan lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau