IDB Kucurkan Rp 28,3 Triliun

Kompas.com - 12/05/2011, 04:50 WIB

Jakarta, Kompas - Indonesia berpeluang besar menjadi titik pusat pertumbuhan perekonomian kawasan Asia Tenggara dengan berbagai potensi yang ada. Untuk itu, Bank Pembangunan Islam menyiapkan kredit 3,3 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 28,3 triliun pada tahun 2011-2014 guna membiayai pembangunan sektor riil.

Presiden Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) Ahmad Mohamed Ali menyerahkan dokumen Strategi Kemitraan Negara Anggota (Member Country Partnership Strategy/MCPS) IDB kepada Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo disaksikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana di Jakarta, Rabu (11/5). IDB beranggotakan 56 negara dan mengelola dana sedikitnya 73,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 628 triliun.

Pemanfaatan kredit MCPS tergantung pada kebutuhan pemerintah, ketersediaan proyek yang layak dibiayai, dan lolos kajian manajemen risiko IDB. Sebanyak 64 persen atau 2,1 miliar dollar AS dialokasikan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan sektor riil di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sebanyak 1,1 miliar dollar AS berasal dari anggota grup IDB yang khusus membiayai sektor swasta. Dalam peluncuran program MCPS, pemimpin salah satu organ pembiayaan sektor swasta IDB, Chief Executive Officer The Islamic Cooperation for the Development of the Private Sector (ICD) Khalid Al-Aboodi, menandatangani kesepakatan kemitraan strategis dengan CEO Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia I Made Gde Erata untuk memperluas peluang berinvestasi di Indonesia dan negara anggota IDB lain.

ICD juga menandatangani perjanjian serupa dengan Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto. Sritex adalah produsen tekstil dan produk tekstil berskala internasional di Jawa Tengah. Organ IDB lain, International Islamic Trade Financing Corporation, bekerja sama dengan Bank Muamalat.

Ahmad Mohamed Ali menyatakan, pembiayaan IDB bukan dana panas yang bisa keluar begitu saja. IDB hanya berinvestasi dalam sektor riil yang lebih tangguh menghadapi krisis karena tidak berkait dengan spekulasi.

Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan, per 6 Mei 2011 cadangan Indonesia mencapai 115,8 miliar dollar AS atau meningkat 2 miliar dollar AS dari pekan lalu. Jumlah itu sangat memadai untuk menghadapi kemungkinan spekulasi dan atau risiko aliran modal keluar. Secara keseluruhan, fondasi ekonomi nasional juga kuat dan sehat. ”Neraca pembayaran kita tetap sehat, surplusnya selalu besar dua tahun ini,” kata Darmin.

Neraca pembayaran Indonesia triwulan I-2011 surplus 7,666 miliar dollar AS. Transaksi modal dan finansial memberikan kontribusi positif terhadap surplus tersebut dengan membukukan surplus 6,221 miliar dollar AS.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah mengatakan, investasi langsung di Indonesia akan terus tumbuh sejalan dengan iklim investasi yang kondusif dan terjaganya stabilitas ekonomi makro. (HAM/BEN/IDR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau