Presiden Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB) Ahmad Mohamed Ali menyerahkan dokumen Strategi Kemitraan Negara Anggota (Member Country Partnership Strategy/MCPS) IDB kepada Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo disaksikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana di Jakarta, Rabu (11/5). IDB beranggotakan 56 negara dan mengelola dana sedikitnya 73,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 628 triliun.
Pemanfaatan kredit MCPS tergantung pada kebutuhan pemerintah, ketersediaan proyek yang layak dibiayai, dan lolos kajian manajemen risiko IDB. Sebanyak 64 persen atau 2,1 miliar dollar AS dialokasikan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan sektor riil di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sebanyak 1,1 miliar dollar AS berasal dari anggota grup IDB yang khusus membiayai sektor swasta. Dalam peluncuran program MCPS, pemimpin salah satu organ pembiayaan sektor swasta IDB, Chief Executive Officer The Islamic Cooperation for the Development of the Private Sector (ICD) Khalid Al-Aboodi, menandatangani kesepakatan kemitraan strategis dengan CEO Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia I Made Gde Erata untuk memperluas peluang berinvestasi di Indonesia dan negara anggota IDB lain.
ICD juga menandatangani perjanjian serupa dengan Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto. Sritex adalah produsen tekstil dan produk tekstil berskala internasional di Jawa Tengah. Organ IDB lain, International Islamic Trade Financing Corporation, bekerja sama dengan Bank Muamalat.
Ahmad Mohamed Ali menyatakan, pembiayaan IDB bukan dana panas yang bisa keluar begitu saja. IDB hanya berinvestasi dalam sektor riil yang lebih tangguh menghadapi krisis karena tidak berkait dengan spekulasi.
Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan, per 6 Mei 2011 cadangan Indonesia mencapai 115,8 miliar dollar AS atau meningkat 2 miliar dollar AS dari pekan lalu. Jumlah itu sangat memadai untuk menghadapi kemungkinan spekulasi dan atau risiko aliran modal keluar. Secara keseluruhan, fondasi ekonomi nasional juga kuat dan sehat. ”Neraca pembayaran kita tetap sehat, surplusnya selalu besar dua tahun ini,” kata Darmin.
Neraca pembayaran Indonesia triwulan I-2011 surplus 7,666 miliar dollar AS. Transaksi modal dan finansial memberikan kontribusi positif terhadap surplus tersebut dengan membukukan surplus 6,221 miliar dollar AS.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah mengatakan, investasi langsung di Indonesia akan terus tumbuh sejalan dengan iklim investasi yang kondusif dan terjaganya stabilitas ekonomi makro.