YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sedikitnya 909 hektar lahan pertanian di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta terancam kekeringan karena tidak teraliri air dari sarana irigasi. Dari total 92 bendungan yang rusak karena terjangan banjir lahar dingin, hingga kini masih ada 41 bendungan yang belum berfungsi.
Arif Pramana, Kabid Irigasi SDAEM Sleman mengatakan 92 bendungan yang rusak tersebut berada di empat alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Masing-masing Sungai Opak, Sungai Kuning, Sungai Boyong dan Sungai Krasak.
"Untuk sementara terpaksa para petani ini mengandalkan air hujan untuk mengairi tanaman mereka. Kita belum bisa melakukan banyak hal, selain karena banjir masih sering terjadi, saat ini juga masih dalam masa tanggap darurat. Untuk rehabilitasi dan rekonstruksi masih menunggu Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB," kata Arif di Sleman Kamis (12/5/2011).
Lebih lanjut Arif mengatakan, selain mengandalkan air hujan, para petani juga bisa memanfaatkan pompa air portable milik Dinas SDAEM Sleman. Ada 31 unit pompa air yang bisa dipinjam oleh kelompok-kelompok tani yang membutuhkan.
"31 unit pompa air itu milik dinas SDAEM. Sementara dinas Pertanian juga memiliki pompa air yang juga bisa dipinjam. Satu pompa air dapat mengairi hingga 2 ha lahan per harinya. Jadi dengan pengaturan yang baik, saya kira kemungkinan kekeringan dapat diminimalisir," imbuh Arif.
Selain menyediakan pompa air menurut Arif, Dinas SDAEM Sleman juga menyediakan 1.000 bronjong darurat dan 50.000 kantung plastik yang juga bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang