SURABAYA, KOMPAS.com - Pelaku pencurian dengan kekerasan yang biasa beroperasi di atas kereta api ditembak mati Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Kamis (12/5/2011) pagi sekitar pukul 04.00.
Tersangka atas nama Imam (42) alias Puput warga Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk ini jatuh tersungkur setelah 2 peluru petugas mengenai bagian dada kiri dan kanan pelaku.
'Kami sudah berikan tembakan peringatan, tapi pelaku melawan menggunakan senjata tajam, terpaksa kami lepaskan tembakan,' kata Kepala Polrestabes Surabaya, Kombes Pol Coki Manurung, Kamis (12/5/2011) siang di kantornya.
Menurut dia, pelaku adalah residivis spesialis perampasan barang-barang milik penumpang di kereta api. Dalam aksinya, pelaku selalu membekali dirinya dengan senjata tajam pisau penghabisan untuk melukai korbannya. 'Tersangka pernah mendekam di tahanan Polsek Gubeng akhir tahun lalu dengan kasus serupa," kata Coki.
Aksi penembakan petugas terhadap pelaku terjadi di rel kereta api di kawasan Jalan Nias Surabaya saat tersangka melompat turun usai beraksi dari kereta api Penataran yang akan berangkat dari Stasiun Gubeng. Selanjutnya, petugas yang sengaja mendatangi pelaku langsung melakukan pengejaran hingga akhirnya polisi menembak mati Imam.
Uniknya, pelaku ini tidak tampak sebagai penjahat. Dalam setiap aksinya pelaku selalu berpakaian rapi ala pengusaha. Secara kebetulan, wajah pelaku juga familiar dan tidak garang seperti penjahat umumnya. 'Malah kadang dia bisa melempar korban dari kereta api yang sedang berjalan,' katanya.
Data terakhir yang dimiliki kepolisian mencatat, pelaku ini sudah beraksi hampir 21 kali. Rata-rata korban yang dijarah tidak melapor kepada petugas. Sebab, setelah beraksi, korban selalu menghilangkan jejak dengan cara melompat dan melarikan diri saat kereta api berjalan lambat.
Barang bukti yang berhasil diamankan polisi, diantaranya sebuah tas, dompet, telepon genggam, sejumlah uang tunai, serta sebilah pisau berukuran panjang 30 cm.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang