JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perhubungan Freddy Numberi menyatakan tak puas jika flight data recorder (FDR) pesawat jenis MA-60 buatan Xi'an Aircraft Industrial Corporation China harus dibawa ke China untuk diperiksa. Pihak Pemerintah Indonesia hanya mampu membuka voice data recorder pesawat yang jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, pekan lalu, itu.
"Ada instrumen yang harus kita minta karena ini bahasanya dalam bahasa China untuk encrypt-nya," kata Freddy kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (12/5/2011).
Akhirnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi membawa kotak hitam tersebut ke China. Pada kesempatan tersebut, Freddy kembali menegaskan bahwa pesawat MA-60 telah memenuhi persyaratan, termasuk dari aspek validasi yang dilakukan pada tahun 2006. Bahkan, Freddy mengatakan, pesawat tipe MA-60 memiliki kelebihan dibandingkan dengan pesawat Foker dan CN-235. Kelebihan ini dilihat dari aspek kemampuan terbang dan jarak. Sementara itu, ketika ditanya soal anggaran, Freddy enggan berbicara.
"Saya tidak bicara soal keuangan dan sebagainya," katanya singkat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang