Imo dan pt inti

Boyong Ekosistem Pabrik Ponsel ke Indonesia

Kompas.com - 12/05/2011, 16:50 WIB

KOMPAS.com — Menjadikan ponsel merek lokal melalui proses OEM menjadi tantangan tersendiri untuk bisa diterima konsumen di dalam negeri. Persoalannya, merek memang menjadi pertimbangan ketika orang memilih ponsel sebelum memilih lainnya, seperti fitur dan sebagainya.

Ketika pemain ponsel merek lokal memutuskan untuk memindahkan pabrik manufaktur ponsel ke Bandung, Jawa Barat, banyak harapan yang ingin dikemukakan. Banyak peluang diharapkan dalam membangun sebuah ekosistem usaha manufaktur berbasis kemampuan anak bangsa.

Sebagai produk manufaktur, ponsel seperti IMO B9800 sekilas menampilkan produk Blackberry Torch buatan RIM asal Kanada. Ponsel cerdas merek lokal ini masih diproduksi di China, memiliki dual SIM card, bisa menayangkan siaran TV, dan memiliki aplikasi jejaring digital sosial, mulai Facebook, Yahoo Messenger, hingga Twitter.

Presiden Direktur PT INTI Irfan Setiaputra dalam pembicaraan dengan Kompas menjelaskan, melalui kerja sama dan merakit ponsel IMO di Indonesia, kegiatan itu diharapkan mampu merambah upaya membangun industri elektronik dengan ponsel sebagai gerbangnya.

Sebagai perusahaan BUMN, PT INTI memang bertugas masuk ke sektor-sektor yang tidak mau dikembangkan pihak swasta karena berbagai pertimbangan, khususnya investasi.

"Kami ingin mulai merambah dengan memanufaktur ponsel merek IMO, dengan berbagai tujuan, termasuk sensing (merasakan) dalam industri ini yang notabene sebuah replikasi, tetapi secara bersamaan mengerti keseluruhan industri dan pasaran yang memiliki konsumen besar karena semua orang butuh ponsel," kata Irfan.

Ponsel, seperti industri elektronika lainnya, adalah persoalan mata rantai suplai berbagai komponen. Irfan berharap melalui proses manufaktur ponsel merek IMO atau merek apa pun, sebuah ekosistem dibangun untuk mulai secara bertahap melakukan substitusi komponen yang awalnya harus diimpor dari berbagai tempat.

"PT INTI mempunyai kualifikasi manufaktur yang tidak berfungsi maksimal. Dengan merakit ponsel IMO, akan terjadi peningkatan penjualan, komponen harga bisa ditekan, dan lingkup pengaruh pemerintah mampu mendorong kebutuhan ponsel buatan sendiri," ujarnya.

Ketika IMO sebagai merek ponsel lokal hadir mulai empat tahun lalu, tidak ada yang mengira kalau berbagai ponsel merek lokal dengan harga yang terjangkau berkembang sangat pesat dan terjadi lonjakan yang signifikan.

Ketika ekosistem industri ponsel dipindahkan dari habitatnya di China, seharusnya hal itu juga menimbulkan lonjakan lain. Misalnya, menciptakan ponsel empat rongga SIM card yang lebih maju daripada IMO B9800 yang dengan dua SIM card. (RLP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau