MENGGALA, KOMPAS.com — Beberapa orangtua siswa di kompleks tambak eks Dipasena di Rawajitu, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, mengeluhkan pemadaman listrik saat ujian nasional sekolah dasar.
Sejak akhir pekan lalu aliran listrik ke tambak sekaligus rumah mereka diputus oleh PT Aruna Wijaya Sakti, perusahaan mitra mereka. Pemutusan aliran listrik itu berlangsung di tengah masa ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) tahun ini.
Ditemui di kompleks SDN Bumi Dipasena Jaya, Kamis (12/5/2011), sejumlah orangtua siswa mengkhawatirkan hasil ujian anak-anak mereka. "Positif, itu berpengaruh ke nilai anak," ujar Safari, orangtua siswa yang juga petambak plasma udang di Rawajitu. SDN Bumi Dipasena Jaya berada di dalam kawasan pertambakan ini.
Suratinah, Wakil Kepala SDN Bumi Dipasena Jaya, mengakui, siswa-siswanya mengeluhkan pemadaman listrik yang datangnya hanya dua hari sebelum ujian. Padahal, mereka ini tidak terbiasa hidup dengan kondisi tanpa listrik.
Namun, dia belum bisa menarik kesimpulan pengaruh dari diputusnya aliran listrik dengan hasil UASBN para siswa. Namun, setidaknya, ungkap Saman Amapede, guru di sekolah ini, dipadamkannya aliran listrik membuat kegiatan belajar teknologi komputer terhenti.
Sebelumnya Wakil Bupati Tulang Bawang Agus Mardihartono meminta PT AWS untuk menghidupkan kembali aliran listrik. Sebab, selain berdampak terhadap kegiatan budidaya udang, aliran listrik juga menghambat kegiatan sehari-hari warga di tambak eks Dipasena Citra Darmaja itu.
"Pemadaman listrik menghambat anak-anak untuk belajar pada malam hari. Kasihan mereka," ujar Agus.
Dipadamkannya aliran listrik di wilayah Bumi Dipasena ini dipicu pertikaian soal pelaksanaan kemitraan antara PT AWS dan petambak plasma.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang