Vaksin

Biofarma Siap Produksi Vaksin Flu Burung

Kompas.com - 13/05/2011, 05:43 WIB

Jakarta, Kompas - Biofarma siap memproduksi vaksin flu burung pada tahun 2012. Produksi vaksin pencegah penyakit yang disebabkan virus H5N1 secara mandiri penting guna mengantisipasi pandemi flu burung.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama PT Biofarma Iskandar dalam acara temu media bertema ”121 Tahun PT (Persero) Biofarma: Mewujudkan Strategi Riset Nasional Dalam Kemandirian Produksi Vaksin”, Kamis (12/5) di Jakarta. Dalam kesempatan itu, diluncurkan akun resmi sosial media Biofarma di jejaring sosial Facebook dengan nama Info Imunisasi dan Twitter dengan nama @infoimunisasi.

Iskandar mengatakan, riset vaksin flu burung dilakukan sejak tahun 2006.

Dalam mengembangkan vaksin itu, Biofarma bekerja sama dengan perguruan tinggi dan Kementerian Kesehatan serta melibatkan transfer teknologi dari Jepang.

Untuk pembangunan kapasitas, Biofarma mendapatkan bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hibah dari WHO yang diterima Biofarma sebesar 3,5 juta dollar AS hingga tahun 2011 serta tambahan dana 400.000 dollar AS untuk tambahan teknologi.

”Kita harus mampu menyediakan vaksin secara mandiri,” ujarnya.

Pada saat tidak terjadi pandemi H5N1, kapasitas yang sudah dimiliki Biofarma digunakan untuk memproduksi vaksin influenza. Pemasaran vaksin influenza ditargetkan bagi pasar lokal, terutama jemaah haji. ”Kami berharap pemerintah dapat menyerap produk vaksin influenza,” ujarnya.

Vaksin pentavalent

Selain vaksin flu burung, Iskandar mengatakan, Biofarma hingga lima tahun ke depan mengembangkan sejumlah vaksin lain, yakni pentavalent untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan haemophilus influenzae type B (Hib).

Produksi mandiri pentavalent sangat mendesak untuk Indonesia karena sudah lebih dari 180 negara di dunia menggunakan.

”Tinggal Indonesia dan China yang belum menggunakan. Padahal, dua negara ini berpenduduk banyak,” katanya.

Untuk vaksin pentavalent, menurut Iskandar, vaksinasi dapat dilakukan bertahap. ”Vaksin pentavalent siap tahun 2012,” ujarnya.

Vaksin lain yang tengah dikembangkan ialah vaksin rotavirus untuk mengatasi masalah diare pada anak dan vaksin polio dalam bentuk injeksi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Kementerian Kesehatan

Ondri Dwi Sampurno mengatakan, penelitian tentang vaksin merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan. Saat ini, tengah diteliti vaksin demam berdarah dengue yang sedang didaftarkan patennya. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan besar di masyarakat dan keberadaan vaksin akan sangat membantu. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau